BAB I
PENDAHULAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari kita semua sudah pasti tidak asing lagi dengan istilah puisi. Puisi merupakan pancaran kehidupan sosial, gejolak kejiwaan dan segala aspek yang ditimbulkan oleh adanya interaksi baik secara langsung ataupun tidak langsung, secara tidak sadar atau tidak dalam suatu masa atau periode tertentu. Sehingga pancaran itu sendiri berlaku untuk sepanjang masa selama nilai-nilai estetis dari sebuah karya puisi itu berlaku dalam masyarakat. Hal inilah yang membuat penulis ingin sekali mengangkat puisi sebagai bahan penelitiannya. Selain itu, dalam puisi juga menggunakan bahasa yang indah sehingga pembaca tidak akan merasa bosan saat membacanya dan akan menemukan keindahan didalamnya.
Buku kumpulan puisi yang berjudul Rumah Panggung adalah salah satu dari buku-buku karya Linus Suryadi AG. yang telah diterbitkan. Rumah panggung adalah kumpulan puisi yang menarik karena menggambarkan suatu keadaaan yang ada disuatu tempat, berikut dengan sistem kehidupan dan lingkungan kehidupan yang ada di tempat tersebut. Tempat yang digambarkan dalam puisi tersebut adalah Pulau Bali, pulau yang penuh dengan keindahan sehingga menarik untuk diteliti.
Pendekatan struktural adalah pendekatan yang digunakan dalam makalah ini karena dengan meneliti unsur-unsur instrinsik struktur puisi ini maka kita akan tahu tema, tempat, waktu sistem kehidupan dan lingkungan kehidupan di suatu tempat yang belum kita tahu sebelumnya.
1.2 Permasalahan
1) Apakah judul dari kumpulan puisi karya Linus Suryadi AG. ?
2) Apakah tema dalam buku kumpulan puisi tersebut?
3) Bagaimanakah irama dalam puisi-piuisi karya Linus Suryadi AG. tersebut, termasuk nada dan temponya?
4) Bagaimana diksi yang digunakan dalam buku kumpulan puisi tersebut?
5) Apa sajakah latar yang digunakan dalam puisi-puisi tersebut?
1.3 Tujuan Pembahasan
1.3.1 Tujuan
- Meningkatkan kegiatan apresiasi karya sastra.
- Meningkatkan dan mengembangkan kajian ilmu pengetahuan khususnya tentang unsur-unsur dalam puisi.
- Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai khasanah karya sartra terutama tentang puisi.
1.3.2 Manfaat
- Mendeskripsikan judul apakah yang ada dalam buku kumpulan puisi karya Linus Suryadi AG.
- Mendeskripsikan tema apa yang diangkat oleh Linus Suryadi AG. di dalam bukunya.
- Mendeskripsikan irama yang digunakan dalam puisi-puisi Linus Suryadi AG. termasuk juga tempo dan nadanya.
- Mendeskripsikan diksi apa saja yang dipaai oleh Linus dalam puisi-puisinya tersebut.
- Mendeskripsikan latar apa saja yang digunakan dalam pusi-puisi Linus untuk melogiskan puisi-puisinya.
1.4 Tinjauan Pustaka
Buku kumpulan puisi yang berjudul Rumah Panggung karya Linus Suryadi AG. adalah buku kumpulan buku yang belum pernah diteliti oleh siapapun, baik dari bidang sastra ataupun secara linguistik.
1.5 Kerangka Teori
Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.
1.6 Metode Penelitian
Metode penelitian dalam makalah ini yaitu dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif diusahakan pengumpulan data secara deskriptif yang kemudian ditulis dalam laporan. Data yang diperoleh dari penelitian ini berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka. Buku kumpulan puisi berjudul Rumah Panggung karya Linus Suryadi AG. Menggunakan metode pendekatan struktural, yang digunakan untuk membahas unsur-unsur instrinsik di dalam karya sastra.
BAB II
KAJIAN STRUKTURAL
2.1 Judul
Sebagai kepala karangan peran judul sangat penting. Judul merupakan kontak pertama antara pengarang dan pembaca. Oleh karena itu, judul harus menarik agar pembaca terpikat untuk membaca. Judul karangan dapat menunjukkan unsur-unsur tertentu dari karya sastra, yaitu:
- Dapat menunjukkan tokoh utama;
- Dapat menunjukkan alur atau waktu; terdapat pada cerita yang disusun secara kronologis
- Dapat menunjukkan objek yang dikemukakan dalam sebuah cerita;
- Dapat mengidentifikasi keadaan atau suasana cerita;
- Dapat mengandung beberapa pengertian, misalnya tempat dan suasana (Jones, 1968:28-29)
Buku kumpulan puisi karya Linus Suryadi AG. berjudul Rumah Panggung. Judul puisi ini terkandung pada salah satu puisinya yang berjudul Rumah Panggung. Berikut petikan puisinya
RUMAH PANGGUNG
Rumah-rumah upacara bagai panggung
Beratap ijuk. Sunyi. Tak terlindung
Rumah-rumah upacara di kaki gunung
Ah, kita di Besakih. Di kaki gunung Agung
(Rumah Panggung, 1988:49)
Rumah panggung diambil karena isi dari puisi tersebut menceritakan apa yang dilihat Linus saat berada di Pulau Bali, yaitu rumah-rumah yang bebantuk panggung yang digunakan untuk bersembahyang oleh para penduduk setempat. Oleh karena itu, pengarang memberikan judul Rumah Panggung untuk judul bukunya ini.
2.2 Tema
Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan. Penyair ingin menyampaikan sesuatu pada penimatnya. Sang penyair melihat atau mengalami beberapa kejadian dalam kehidupannya ataupun kehidupan masyarakatnya sehari-hari.
Tema yang tersirat dalam buku kumpulan puisi ini yaitu sisi lain Pulau Bali. Karena hamper semua isi dari puisi Linus bercerita tentang Pulau Bali dan sisi lain dari pulau dewata yang terkenal indah. Berikut ini adalah petikan puisi yang menggambarkan sisi lain Pulau Bali.
PULAU BALI
Bagimu pulau Bali pulau pesiar
Bagiku masa lampau yang terhampar
Baginya jagad utuh tak tertawar
Tapi bagi siapa: hidup kembali segar dan mekar!
Tak perlu spanduk model seminar
Jargon penjual jamu di pasar-pasar
Hidup cantik yang terawatt baik,
Berujar: “Welcome to Bali. Anda tak kesasar.”
(Rumah Panggung, 1988:36)
Dari puisi diatas kita dapat memetik suatu kesimpulan bahwa selain pulau yang sangat indah, pulau yang menarik para turis dengan kemolekan alamnya, ternyata bagi Linus, Pulau Bali hanyalah masa lampau yang terhampar luas, tertata dengan indah dan alamiah di suatu pulau kecil yang terpisah. Pulau yang sangat indah tersebut hanya berupa peninggalan masa lampau dari masyarakat kuno di Bali yang memiliki masa suram sendiri dan menjadi daya tarik bagi semua orang. Ternyata baru kita ketahui banyak sekali hal yang bertolak belakang dari wajah Pulau Bali yang sangat cantik tersebut, bahwa semua itu hanyalah masa lampau yang menarik.
2.3 Irama
Irama yaitu pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembutnya ucapan bunyi bahasa dengan teratur.
2.3.1 Nada ( Tone )
Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll. Contoh nada terdapat dalam salah petikan puisi berikut ini.
PERSAMAAN TERSAMBAR
Kau rela memeri dan menerima apa saja
Apa yang aku minta yang ada padamu
Apa yang aku beri yang ada padaku
Inikah yang kau kira, hakikat hidup bercinta?
…
(Rumah Panggung, 1988:136)
Dalam petikan puisis diatas, pengarang mencoba bertanya kepada pembaca dan mencoba membuat pembaca merasa bodoh. Karena pengarang mengajukan pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, atau dengan kata lain menyindir pembaca tentang apajah hakikat hidup bercinta itu.
2.3.2 Tempo
Cepat lambatnya pengucapan (suara). Kita harus pandai mengatur dan menyesuaikan dengan kekuatan nafas. Di mana harus ada jeda, di mana kita harus menyambung atau mencuri nafas. Contoh tempo terdapat dalam salah petikan puisi berikut ini.
BETLEHEM
…
Kudengar jerit cenger suara bayi
Kudengar segar, polos, dan sunyi
Bergelung-gelung di dalam rongga malam
O, kudengar jerit batinku sendiri
(Rumah Panggung, 1988:132)
Dalam petikan puisi diatas, pengarang menggunakan jeda yang sangat jelas, yaitu dengan memberikan tanda baca koma untuk memperjelas temponya, yaitu agar tempo pengucapannya diperlambat agar tidak terkesan terburu-buru.
2.4 Diksi
Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik). Diksi yang digunakan yaitu memiliki makna denotatif dan makna konotatif.
- Makna Denotatif
Makna denotatif yaitu kata yang tidak mengandung makna atau perasaan-perasaan tambahan. Dalam bentuk murni, makna denotatif dihubungkan dengan bahasa ilmiah. Seorang penulis hanya ingin menyampaikan informasi kepada kita, dalam hal ini khusunya dibidang ilmiah, akan berkecenderungan untuk menggunakan kata-kata yang denotatif. Berikut ini adalah puisi Linus yang menggunakan makna denotatif
SENJA
Gadis-gadis demuk dan ramping berjalan
Gadis-gadis menyunggi banten.
Dengung gamelan
Kau tertambat pada kain dan selendang
Gadis-gadis gemuk dan ramping melenggang pergi ke upacara Odalan
(Rumah Panggung, 1988:47)
Dari puisi diatas dapat kita analisis, bahwa tidak ada penambahan apapun di dalam kata-kata yang dipakai. Semuanya menggunakan makna yang sesungguhnya. Meginformasikan bahwa ada beberapa gadis gemuk dan beberapa gadis ramping yang berjalan dengan menggunakan kain dan selendang untuk pergi ke upacara Odalan. Semua itu berupa informasi yang bisa langsung kita tangkap maknanya tanpa harus mencari makna tersembunyi. Krena kata-kata yag digunakan adalah kata-kata yang ilmiah. Sehingga puisi ini merupakan puisi yang bermakna denotatif.
- Makna Konotatif
Makan konotatif adalah makna kata yang mengandung arti tambahan, perasaan tertentu, atau niali rasa tertentu disamping makna dasar yang umum digunakan. Makna konotatif sebagian besar terjadi karena pembicara ingin menimbulkan perasaan setuju – tidak setuju, senang – tidak senang dan sebagainya kepada pihak pendengar; di pihak lain, kata yang dipilih itu memperlihatkan bahwa pembicaraan juga memendam perasaan yang sama. Berikut ini adalah petikan dari puisi Linus yang menggunakan makna konotatif.
EMBUN
Embun telah menjadi perhiasan jagad pagi
Embun yang menggigilkan panca indra kita
Embun pikir dan rasa.
Embun dieantero bumi
Megahlah, tertimpa sinar matahari sunyi
…
(Rumah Panggung, 1988:55)
Dari petikan puisi di atas, kita tidak bisa langsung mengartikan makna apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis. Karena embun tidak bisa di pakai sebagai perhiasaan dan yang bisa dijadikan perhiasan adalah benda-benda padat yang biasanya diapaki oleh kaum wanita seperti anting dan kalung. Namun, dalam puisinya, Linus menggunakan kata Embun sebagai perhiasan, maksudnya yaitu embun yang turun di bumi saat pagi hari, menghiasi lingkungan sekitar. Udara menjadi lembab karena air, dan biasanya hal itu yang terjadi saat pagi hari. Karena kata-kata pada puisi berjudul Embun tidak bisa diartikan secara langsung, maka puisi tersebut bermakna konotatif.
2.5 Latar / Setting
Latar adalah konteks terjadinya peristiwa dalam cerita atau lingkungan yang mengelilingi pelaku. Peristiwa dalam cerita harus tergambar dengan jelas lokasi dan waktu.
Pradopo (1975/1976:37) membagi aspek latar berdasarkan fungsinya menjadi lima bagian. Kelima fungsi tersebut adalah:
2.5.1 Latar Tempat
Latar tempat merupakan penggambaran tempat terjadinya peristiwa, baik tempat di dalam atau di luar rumah yang melingkupi tokoh. Latar tempat yang digunakan pengarang yaitu seperti yang ada di salah satu petikan puisi berikut ini
PULAU KARANG
…
Bagaikan pulau karang
Di pura Tanah Lot
Kecil dan lengang
Terpencil dari alam keramaian
…
(Rumah Panggung, 1988:42)
Dari petikan puisi di atas kita bisa langsung mengetahui latar tempat yang digunakan, yaitu di pura Tanah Lot. Tanah Lot digunakan sebagai tempat yang menggambarkan sisi lain Pulau Bali yang sangat terpencil, jauh dari keramaian kota. Menggambarkan juga bahwa masih ada tempat yang sangat terpencil dan sepi di Pulau Bali, pulau yang terkenal dengan keramaiannya dan banyak dikunungi oleh turis-turis mancanegara dan turis-turis lokal dan latar tempat yang digunakan ini sangatlah cocok dengan tema yang diangkat oleh pengarang.
2.5.2 Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan waktu terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar waktu dapat berupa detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, atau musim. Berikut ini adalah latar waktu yang digunakan oleh pengarang dalam petikan puisi untuk melogiskan puisi-puisinya.
KADISOBO
Tiap fajar tiba dan senja turun
Selalu terlihat ratusan bangau
Bercanda sambil berayun-ayun di ranting
…
(Rumah Panggung, 1988:99)
Dari petikan puisi diatas kita dapat mengetahui bahwa latar waktu yang ditunjukkan oleh pengarang adalah saat fajar tiba, ialah saat matahari belum terbit dan masih belum menampakkan diri. Namun pada saat itu, bangau-bangau yang ada di Kadisobo sedang bercanda dalam arti, mereka semua sedang berkumpul dan mencari makan. Dan ketika senja turun, saat matahari sudah mulai kembali ke peraduannya, bangau-bangau tersebut masih berkumpul dengan kelompokmya untuk menacri makan lagi atau hanya sekedar berkumpul bersama dengan kelompoknya.
2.5.3 Latar Alat
Latar alat merupakan alat-alat yang digunakan dalam cerita. Latar alat akan melogiskan cerita, karena sebagai representasi dari kehidupan manusia, tokoh cerita membutuhkan sarana (alat-alat) dalam kehidupannya, misalnya, baju, rumah, kendaraan, makanan dan sebagainya. Latar alat yang digunakan dalam puisinya yaitu terlihat dalam petikan puisi berikut ini
LEWAT TENGAH MALAM
Seperti lagu dalam kaset lama berputar kembali
Bergema di tengah ruang.
Jam masuk ke dinihari
Suara drum, saxophone, gitar, bas, dan perkusi
Pada gulungan pita rekaman tertambat, juga mimpi.
…
(Rumah Panggung, 1988:71)
Dalam petikan diatas sudah dapat kita tentukan alat-alat apa saja yang digunakan dalam puisi-puisi Linus Suryadi AG. untuk melogiskan puisi-puisinya.alat yang digunakan yaitu kaset, drum, saxophone, gitar, bas perkusi dan gulungan pita rekaman. Dari alat-alat yang digunakan diatas kita dapat membayangkan bahwa yang terjadi adalah suara musik yang ramai akibat alat-alat musik tersebut. Puisi tersebut menggambarkan bahwa lewat tengah malam, adalah waktu yang cocok untuk membunyikan alat-alat tersebut, untuk membuat suasana tidak sepi.
2.5.4 Latar Lingkungan kehidupan
Latar lingkungan kehidupan menyaran pada lingkungan kehidupan tokoh. Lingkungan kehidupan berhubungan dengan latar tempat dan sistem kehidupan, serta lebih luas dari latar tempat. Latar lingkungan kehidupan bisa berupa desa, kota, kabupaten, provinsi), pulau, atau Negara. Latar lingkungan kehidupan yang digunakan yaitu terlihat dalam petikan puisi berikut
SEBUAH SUARA
Bila kubayangkan Prambanan
Suara membilang Hindu
Bila kubayangkan Borobudur
Suara membilang Buddha
…
(Rumah Panggung, 1988:79)
Dalam petikan di atas dapat mengetahui bahwa jika kita ingat yentang candi Prambanan, maka yang paling dekat dengan candi tersebut yaitu Hindu, karena orang-orang yang hidup pada zaman itu adalah orang-orang yang mengaut agama Hindu. Dan jika kita ingat Candi Borobudur, maka yang akan terlintas dipikiran kita yaitu agama Buddha. Hal ini disebabkan krena orang-orang yang membuat candi tersebut adalah orang-orang yang beragama Buddha dan selain itu candi tersebut dibangun adalah pada saat kerajaan Buddha sedang berkuasa di Indonesia, khususnya di sekitar Candi Borobudur.
2.5.6 Latar Sistem kehidupan
Latar sistem kehidupan merupakan aturan-aturan yang berlaku dalam lingkungan kehidupan tertentu. Latar sistem kehidupan berhubungan dengan latar tempat dan lingkungan kehidupan. Latar sistem kehidupan yang digunakan yaitu terdapat dalam petikan puisi berikut
DI PENDOPO KEBUMEN
Kita saksikan sayembara di Pendopo Mangkubumen
Anatr peguyuban karawitan Jawa se D.I Yogyakarta
Gamelan Slendro & pelog bergema.
Alunan pesinden melampaui lingkingan bumi kehidupan kota kita
…
(Rumah Panggung, 1988:68)
Dalam petikan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ada adat istiadat yang masih dilestarikan walaupun di kota. Adat tersebut adalah melakukan sayembara dan di lakukan di pendopo Mangkubumen. Hal itu dengan jelas menggambarkan tentang sistem kehidupan orang Jawa yang masih lekat. Sayembara tersebut dilakukan dengan menggunakan iring-iringan yang berupa gamelan dn Slendro lengkap dengan para pesindennya.
2.6 Bahasa dan Gaya
Bahasa dalam karya puisi adalah suatu alat untuk melukiskan atau menggambarkan, menegaskan inspirasi atau ide dalam bentuk bahasa dengan gaya yang personal. Gaya bahasa tidak dapat dipaksakan kehadirannya dalam sebuah karya puisi. Gaya bahasa tergantung pada pendapat atau inspirasi yang ada pada diri kita utuk dituangkan dalam citra sastra. Gaya bahasa dibedakan menjadi bermacam-macam jenis, berikut adalah mecam-macam gaya bahasa.
a) Persamaan atau simile
Persamaan atau simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Maksudnya yaitu bahwa ia langsung meyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu, iamengupayaka yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan itu, misalnya dengan menggunakan kata-kata seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, bak, dan sebagainya.
Matanya seteri bintang timur
Berikut adalah puisi Linus Suryadi AG. yang menggunakan gaya bahasa personifikasi
EMBUN
….
Embun yag jatuh bagaikan airmata yang runtuh
Embun berlaksa rencana manusia yang jatuh
….
(Rumah Panggung, 1988:55)
Dari petikan puisi diatas, kita bisa melihat secara langsung apa yang menjadi ciri gaya bahasa personifikasi. Kata bagaikan dan berlaksa menandakan bahwa bait puisi tersebut mengandaikan embun seperti airmata. Selain itu kata berlaksa yang bermakna seperti juga menjadi tanda bahwa bait puisi tersebut menggunakangaya bahasa personifikasi.
b) Metafora
Metafora adalah semacam analogi yang mebandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk singkat: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya. Pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua. Proses terjadinya sebenarnya sama dengan simile tetapi secara berangsur-angsur keterangan mengenai persamaan dan pokok pertama dihilangkan.
Misalnya
Pemuda bunga bangsa
Berikut ini adalah petikan puisi yang menggunakan gaya bahasa metafora
PASKAH
Jesus Kristus, Sang Penebus
Tiap paskah tiba kau ingatkan aku
–Simon Petrus—
…
(Rumah Panggung, 1988:108)
Dari petikan diatas dapat kita tahu yang menggunakan gaya bahasa metafora yaitu, Jesus Kristus, Dia adalah yang akan menebus semua dosa-dosa manusia di hari Paskah. Hal itulah yang dimaksudkan oleh pengarang dari bait puisinya.
c) Personifikasi
Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat yang sama seperti manusia. Personifikasi merupakan suatu corak khusus dari metafora, yang mengkiaskan benda-benda mati bertindak, berbuat, berbicara seperti manusia.
Matahari baru saja kembali ke peraduannya, ketika kami tiba disana.
Berikut ini adalah petikan puisi yang menggunakan majas personifikasi dalam puisinya.
KWATRIN-KWATRIN PAGI DI BALI
(1)
Matahari bangkit di laut Jawa
Wahai! Matahari siapa pula?
Baru kemarin ia tenggelam di lepas Kuta
Sambil meliuk-liukkan pohon kelapa
…
(Rumah Panggung, 1988:60)
Dalam puisi tersebut, majas personifikasi yang digunakan yaitu pada bait, matahari bangkit dari laut Jawa hal ini menggambarkan matahari yang baru muncul di laut Jawa, namun menggunakan bahasa kiasan yaitu bangkit dan kata ini hanya digunakan oleh manusia ketika bangun dari tidur. Namun, dalam puisi ini, kata bangkit digunakan untuk memperindah kata-katanya. Selain itu, kata tenggelam digunakan untuk menggambarkan senja hari di mana matahari mulai hilang dan berganti malam.
d) Hiperbola
Hiperbola adalah kiasan yang berlebih-lebihan. Hal ini dilakukan oleh para penyair agar mendapat perhatian dari pembaca. Misalnya, aku ingin hidup seribu tahun lagi. Contoh :
GEMBALA GAIB
…
Aku pun menimbuni lukaMu
Dengan garam dan luka
Sebab teledor dan alpa
O, Gembala ajaib yang gaib!
…
(Rumah Panggung, 1988:88)
Dalam petikan puisi diatas kata yang menunjukkan majas hiperbola yaitu menimbuni. Akupun menimbuni lukaMu, bait tersebut menggambarkan bahwa tokoh aku menutupi luka Tuhannya, namun menggunakan kata menimbuni agar mearik perhatian pembaca dan agar tercipta suatu keindahan dalam rangkaian kata-katanya.
e) Sinekdoke
Sinekdoke adalah semacam gaya bahasa figuratife yang memeprgunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan ( pars pro toto ) atau mempergunakan keseluruhan untuk sebagian ( totem pro parte ). Misalnya
Setiap kepala dikenakan biaya sumbangan sebesar Rp. 1000,-
Pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia
Berikut ini adlah petikan puisi Linus yang menggunakan gaya bahasa Sinekdoke
DOA MALAM
…
Telah kucium bumi suci
Warisan nenek moyangku
Dimana Aba dan Eba
Turun, pertama kali
…
(Rumah Panggung, 1988:89)
Dari petikan puisi diatas, terdapat bait yang menandai gaya bahasa sinekdoke yaitu Telah kuciumi bumi suci, secara logika, kita tidak akan bisa mencium seluruh permukaan bumi karena bumi sangatlah luas. Gaya bahsa tersebut yaitu Sinekdoke totem pro parte.
f) Metonomia
Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan suatu kata untuk menyatakan suatu kata yang lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Hubungan itu dapat berupa penemu untuk hasil penemuan, pemilik dari suatu barang yang dimiliki, akibat untuk sebab, sebab untuk akibat, isi untuk menyatakan kulitnya, dan senagainya. Misalnya
Ia membeli sebuah Chevrolet.
Berikut ini adlah petikan sebuah puisi yang menggunakan gaya bahasa metonimia
HOROSKOP
…
Kapan Si Cancer dan Si Virgo ketemu
Keduanya diam.
Selebihnya tak kutahu
Sedang peramal dan perawan termangu:
“Astaga! Banyolan hidup sedang berlaku!”
(Rumah Panggung, 1988:154)
Dalam petikan puisi diatas, kita mendapatkan kata Si Virgo dan Si Cancer, kata tersebut sebenarnya adalah sebuah gugusan bintang yang memiliki nama sendiri-sendiri. Namun, pengarang menggunakan kata Si Virgo dan Si Cancer untuk membuat kesan indah pada kata-kata dalam puisinya tersebut.
BAB III KESIMPULAN
3.1 Buku kumpulan puisi karya Linus Suryadi AG. berjudul Rumah Panggung. Judul puisi ini terkandung pada salah satu puisinya yang berjudul Rumah Panggung.
3.2 Tema yang tersirat dalam buku kumpulan puisi ini yaitu sisi lain Pulau Bali.
3.3 Irama
- Nada ( Tone ) terdapat dalam puisi yang berjudul PERSAMAAN TERSAMBAR
- Tempo terdapat dalam puisi yang berjudul BETLEHEM
3.4 Diksi yang digunakan yaitu dalam bentuk makna konotatif dan makna denotatif. Makna denotatif terletak pada puisi yang berjudul Senja, dan makna konotatif terletak pada puisi yang berjudul Embun.
3.5 Latar
- Latar Tempat terdapat dalam puisi yang berjudul PULAU KARANG
- Latar waktu terdapat pada puisi yang berjudul KADISOBO
- Latar alat terdapat pada puisi yang berjudul LEWAT TENGAH MALAM
- Latar lingkungan kehidupan terdapat pada puisi yang berjudul SEBUAH SUARA
- Latar sistem kehidupan terdapat pada puisi yang berjudul DI PENDOPO KEBUMEN
3.6 Bahasa dan Gaya
- Persamaan atau simile terdapat pada puisi yang berjudul EMBUN
- Metafora terdapat pada puisi yang berjudul PASKAH
- Personifikasi terdapat pada puisi yang berjudul KWATRIN-KWATRIN PAGI DI BALI
- Hiperbola terdapat pada puisi yang berjudul GEMBALA GAIB
- Sinekdoke terdapat pada puisi yang berjudul DOA MALAM
- Metonomia terdapat pada puisi yang berjudul HOROSKOP
DAFTAR PUSTAKA
Tohari. Mohammad.2003.”Kajian Struktural Manusia dalam Seni Pertunjukan Reog Ponorogo”. Jember: Fakultas Sastra Universitas Jember.
Sayuti. Suminto. A.1985.PUISI DAN PENGEJARANNYA (SEBUAH PENGANTAR).Yogyakarta:IKIP SEMARANG PRESS.
Keraf. Gorys.2008.DIKSI DAN GAYA BAHASA.Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama.
Jalil. Daniel Abdul.1985.TEORI & PERIODISASI PUISI INDONESIA.Bandung:Angkasa Bandung.
Tarigan.Henry Guntur.1993.PRINSIP-PRINSIP DASAR SASTRA.Bandung:Angkasa Bandung.
AG. Linus Suryadi.1988.Rumah Panggung.Yogyakarta:Nusa Indah.
Maslikatin, titik.2007.KAJIAN SASTRA Prosa, Puisi, drama. Jember.UNEJ Press.
Nurgiantoro, Burhan.2000.Teori Pengkajian Fiksi.Yogyakarta:Gajah Mada University Press.
Somardjo,Jakob dan Saini K.M.1986.IApresiasi kesusastraan.IJakarta:Gramedia.
Stanton,Robert.1965.An Introduction to Fiction.New York:Holt Rinehart.
file:///F:/Ly@_Data/teknik%20pembacaan%20puisi.htm
November 18, 2009
Kategori: sastra . . Penulis: alleamomo . Komentar: Tinggalkan sebuah Komentar