ANALISIS KALIMAT TANYA dalam CERPEN BUDI karya CHAIRUL HARUN

(Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sintaksis Bahasa Indonesia I )

Disusun Oleh :

Lya Lesmana

070110201068

SASTRA INDONESIA

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS JEMBER

2009

 

 

DAFTAR ISI

JUDUL…………………………………………………………………………….    i

DAFTAR ISI      ……………………………………………………………………  1

BAB I PENDAHULUAN    ………………………………………………………..  2

1.1 Latar Belakang……….  ….…………………………………………………  2

1.2 Permasalahan ……………………………………………………………….  2

1.3 Tujuan dan Manfaat    ………………………………………………………  2

1.3.1 Manfaat ………………………………………………………………  2

1.3.2 Tujuan   ………………………………………………………………  3

1.4 Tinjauan Pustaka     …………………………………………………………  3

1.5 Landasan Teori   ……………………………………………………………  3

1.5.1 Pengertian  ……………………………………………………………  3

1.5.2 Macam-macam Kalimat Tanya……………………………………… 4

BAB II PEMBAHASAN   ………………………………………………………….  6

BAB III PENUTUP  ………………………………………………………………..  8

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………..   9

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berkomunikasi dengan menggunakan suatu bahasa sebagai alatnya. Dalam berkomunikasi, kita menggunakan kalimat kata untuk menyampaikan apa yang akan kita beritahukan ( informasi) kepada lawan bicara kita. Kata-kata tersebut kemudian dirangkai mulai menjadi frasa, klausa dan akhirnya menjadi kalimat. Selain dengan cara lisan, kita juga berkomunikasi dengan orang lain dengan melalui bahasa tulis, misalnya yang digunakan di dalam media massa. Di dalam media massa tersebut, terkandung beberapa jenis kalimat yang digunakan di dalam bahasa tulis, diantaranya yaitu kalimat tanya.

Salah satu media massa yang juga sangat berpengaruh di masyarakat sebagai alat komunikasi yaitu melalui karya sastra. Karya sastra yang digunakan dalam makalah ini yaitu cerpen. Salah satu kelebihan cerpen yaitu, bila kita membacanya maka dalam satu kali duduk saja kita bisa selesai membacanya. Selain itu, cerpen juga tidak terlalu panjang, sehingga kita lebih cepat dalam mengetahui cerita apa yang kita baca dan pesan apa yang aka diberitahukan penulis kepada pembacanya.

Cerpen yang penulis angkat yaitu cerpen berjudul Budi karya Chairul Harun ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami, sehingga mempermudah pembaca untuk mengerti dengan apa yang ingin diungkapkan oleh pengarang melalui tulisanya. Selain itu tidak pernah ada seseorangpun yang meneliti cerpen ini, sehingga penulis ingin sekali menelitinya. Penulis tidak akan menganalisis struktur cerpen itu sendiri, tetapi akan menganalisis tentang kalimat tanya yang ada di dalamnya.

 

1.2       Permasalahan

1. Apa yang dimaksud kalimat tanya?

2. Apa saja macam-macam kata  tanya?

3. Kalimat  tanya apa saja yang terkandung dalam cerpen yang berjudul Budi?

 

1.3       Tujuan dan Manfaat

1.3.1. Manfaat

  1. Meningkatkan kegiatan apresiasi karya sastra.

2.  Meningkatkan dan mengembangkan kajian ilmu pengetahuan khususnya tentang kalimat tanya.

  1. Meningkatkan dan mengembangkan  ilmu pengetahuan kita dalam penerapan kalimat tanya serta macam-macamnya di dalam suatu cerpen.
  2. Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai khasanah linguistik dalam karya sastra.

1.3.2 Tujuan

  1. Mendeskripsikan pengertian kalimat tanya.
  2. Mendeskripsikan macam-macam kata tanya.
  3. Mendeskripsikan kalimat tanya apa saja yang terkandung dalam cerpen yang berjudul Budi.

 

1.4 Tinjauan Pustaka

Sejauh ini, tidak pernah ada satu orangpun yang melakukan penelitian terhadap cerpen karya Chaerul Harun ini, baik dari bidang ilmu sastra, linguistik maupun dari bidang-bidang ilmu yang lainnya. Jadi makalah yang penulis buat ini adalah yang pertama kalinya dilakukan terhadap cerpen Budi karya ChaIrul Harun ini.

1.5 Landasan Teori

1.5.1 Pengertian

Kalimat adalah suatu bagian yag selesai dan menunjukkan pikiran yang lengkap (Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa:2007). Ciri-ciri kalimat yaitu selalu diawali oleh huruf kapital, dan diakhiri oleh intonasi final. Ditinjau dari isinya, kalimat dibagi menjadi tiga, yaitu kalimat tanya, kalimat berita dan kalimat perintah, namun, yang akan dibahas dalam makalah ini hanya kalimat tanya.

a)      Kalimat Tanya

 

Kalimat tanya pada umumnya berfungsi untuk menanyakan sesuatu. Kalimat ini memiliki intonasi yang berbeda dengan pola intonasi kalimat berita. Perbedaannya terutama terletak pada nada akhirnya. Pada intonasi berita bernada akhir turun, sedangkan pola intonasi tanya berada akhir naik, disamping nada suku terakhir yang lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan nada suku terakhir pola intonasi berita.

Contoh kalimat tanya yaitu

  1. Apa yang kamu lakukan?
  2. Kapan dia pergi?

 

Macam-macam kata tanya yaitu

  1. Apa

Kata tanya apa digunakan untuk menanyakan benda, tumbuh-tumbuhan, dan hewan dan menanyakan identitas serta menanyakan kata kerja. Misalnya:

1. Petani itu membawa apa?

2. Apa yang kamu lakukan disini?

3. Apa yang kamu suka?

 

  1. Siapa

Kata tanya siapa dipakai untuk menanyakan Tuhan, Malaikat, dan orang. Misalnya:

1. Siapa yang pergi kemarin?

2. Siapa Tuhanmu?

 

  1. Mengapa

Kata tanya mengapa dipakai untuk menanyakan perbuatan dan sebab. Misalnya:

1. Mengapa kau pergi?

2. Mengapa kau lakukan semua itu padanya?

 

  1. Kenapa

Kata tanya kenapa diapakai untuk menanyakan sebab seperti sama halnya dengan kata mengapa tadi. Misalnya:

1. Kenapa kau sait?

2. kenapa dia marah?

 

  1. Bagaimana

Kata tanya bagaimana dipakai untuk menanyakan keadaan. Misalnya:

1. Bagaimana pekerjaanmu disana?

2. Bagaimana kau bisa tahu aku ada disini?

 

  1. Mana

Kata tanya mana dpakai untuk menanyakan tempat. Dimana menanyakan tempat berada, dari mana dipakai untuk menanyakan asal atau tempat yang ditinggalkan, dan kemana menanyakan tempat yang dituju. Misalnya:

1. Dimana kau beremu dengan perempuan ini?

2. Darimana saja kau selama ini?

3. Kemana anakmu pergi tadi siang?

 

 

 

  1. Bilamana, bila, dan kapan

Ketiganya dipakai  untuk menanyakan keterangan waktu. Misalnya:

1. Kapan kau tiba disini?

2. Kapan kau pulang?

 

  1. Berapa

Kata tanya ini diapaki untuk menanyakan jumalh dan bilangan. Misalnya:

1. Berapa tahu  umur anakmu?

2. Berapa kilogram kentang yang kau beli?

BAB II PEMBAHASAN

 

  1. “Kebon Kacang berapa, Pak?” tanya sopir taksi.

Kata tanya yang digunakan dalam kalimat tanya tersebut yaitu berapa. Kata tanya ini dipakai untuk menanyakan jumlah, dalam kalimat langsung tersebut banyak sekali terjadi pelesapan kata atau elipsis. Sopir tersebut tidak menanyakan jumlah      Kebon Kacang yang ada di daerah itu, tetapi berapa tarif harga jika turun di daerah yang bernama Kebon Kacang. Terjadi elipsis karena kalimat yang digunakan ini adalah kalimat langsung dan termasuk kedalam kalimat non formal, sehingga tidak harus menggunakan aturan EYD.

 

  1. “ Kenapa Pak?”

Kata tanya yang digunakan yaitu Kenapa dan dipakai untuk menanyakan sebab. Kata ini biasanya hanya digunakan pada kalimat non formal, karena kata ini tidak baku. Bentuk baku dari kata tanya kenapa ini yaitu Mengapa, namun, karena kalimat ini adalah kalimat non formal, maka kata tanya ini boleh dipakai.

 

  1. “ Mengapa tidak kerumah sakit, Pak? Pak tua itu semaput, kan.”

Kata tanya yang digunakan dalam kalimat diatas yaitu mengapa. Kata ini dipakai untuk menanyakan sebab.

 

  1. “Apa penyakitnya, Pak?”

Kata tanya yang digunakan yaitu apa. Kata ini dipakai untuk menanyakan benda, tumbuh-tumbuhan, dan hewan. Dalam kalimat ini yang ditanyakan adalah kata benda yaitu nama penyakitnya.

 

  1. “ Orang tua Bapak?”

Tidak ada kata tanya yang digunakan dalam kalimat tersebut. Kalimat tersebut hanya membutuhkan jawaban iya atau tidak. Kalimat tanya diatas digunakan untuk menanyakan keyakinan akan sesuatu hal yaitu apakah betul mereka orang tua bapak atau bukan.

 

 

 

  1. Ia bertanya, “ Saya tidak kenal, siapa Anak muda?”

Kata tanya yang digunakan dalam kalimat ini yaitu siapa. Kata tanya ini dipakai untuk menanyakan Tuhan, Malaikat, dannama orang, sedangkan yang ditanyakan dalam kalimat tanya tersebut adalah nama orang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB  III PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

 

Berdasarkan analisis yang telah dijabarkan dalam Bab II diatas maka dapat kita simpulkan bahwa kata tanya yang digunakan dalam cerpen Budi karya Chairul Harun yaitu

  • Berapa
  • Kenapa
  • Mengapa
  • Apa
  • Siapa
  • Kalimat tanya yang hanya memerlukan jawaban ya atau tidak

3.2 Saran

Kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah selanjutnya agar tidak terjadi kesalahan. Semoga makalah ini berguna bagi siapa saja yang memerlukannya dan bermanfaat di bidang akademik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Tim Penulis Bahasa Indonesia UNEJ. 2007. Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa.Jember. Penerbit Andi

Ramlan, M. 2000. SINTAKSIS. Yogyakarta.CV. KARYONO

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Novel diterbitkan agar dibaca, sebab novel adalah salah satu bentuk ungkapan atau ekspresi dalam sastra untuk dikomunikasikan kepada orang lain. Salah satu novel terbaik adalah novel yang berjudul Saman. Salah satu buah karya novelis Indonesia yang cukup berprestasi di bidangnya. Novel Saman ini adalah pemenang Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1998. Novel ini cukup menarik untuk dibaca karena kekuatan yang terkadung di dalamnya. Untuk diungkapkan unsur-unsurnya, novel ini juga cukup menarik.

Dalam menganalisis novel ini, ada beberapa teori sebagai dasar untuk mengalisinya lebih lanjut. Teori tersebut antara lain terdiri dari kajian struktural, kajian mimetik, kajian pragmatik, dan kajian semiotik. Namun, penulis cukup menggunakan kajian struktural, karena teori ini cukup menarik untuk dijadikan sebagai bahan acuan dalam menganalisis sebuah karya sastra, khususnya novel.

Dalam menganalis novel ini penulis menggunakan kajian struktural yang di dalamnya mencakup unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Dua hal ini adalah unsur yang sangat penting dalam terbentuknya sebuah karya sastra, khususnya novel. Melalui analisis kajian struktural, pembaca akan lebih mudah dalam memahami unsur-unsur yang terkadung dalam sebuah novel.

1.2  Rumusan Masalah.

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Unsur-unsur apa saja yang terkandung dalam kajian struktural ?
  2. Unsur-unsur apa saja yang membangun sebuah karya sastra khususnya novel ?

 

1.3  Tujuan.

Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah kajian prosa, fiksi dan drama.
  2. Untuk memahami unsur-unsur yang ada di dalam sebuah karya sastra sebagai unsur pembangun sebuah karya sastra.
  3. Untuk memahami lebih jelas mengenai kajian struktural.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1      Kajian struktural

Secara etomlologis struktur berasal dari kata structura, bahasa latin, yang berarti bentuk atau bangunan. Asal muasal strukturalisme, seperti sudah dikemukakan di atas, dapat dilacak dalam Poetica Aritoteles, dalam kaitannya dengan tragedi, lebih khusus lagi dalam pembicaraannya mengenai plot. Konsep plot harus memiliki cirri-ciri yang terdiri dari kesatuan, keseluruhan, kebulatan, dan keterjalinan (Teeuw, 1988:121-134). Menurut Teeuw (1988:131), khususnya dalam ilmu sastra, strukturalisme berkembang melalui tradisi formalisme. Artinya, hasil-hasil yang dicapai melalui tradisi formalis sebagian besar dilanjutkan dalam strukturalis.

Secara definitif strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri, dengan mekanisme antar hubungannya, disatu pihak antar hubungan yang satu dengan yang lainnya, dipihak yang lain hubungan antara unsur (unsur) dengan totalitasnya. Hubungan itu tidak semata-mata bersifat positif, seperti keselarasan, kesesuaian, dan kesepahaman, tetapi juga negatif, seperti konflik dan pertentangan.

 

2.2      Unsur Intrinsik

2.2.1        Judul

Sebagai kepala karangan peran judul sangat penting. Judul merupakan kontak pertama antara pengarang dan pembaca. Oleh karena itu,  judul harus menarik agar pembaca terpikat untuk membaca. Judul karangan dapat menunjukkan unsur-unsur tertentu dari karya sastra tertentu, yaitu :

  1. Dapat menunjukkan tokoh utama,
  2. Dapat menunjukkan alur atau waktu; terdapat pada cerita yang disusun secara kronologis,
  3. Dapat menunjukkan objek yang dikemukakan dalam suatu cerita,
  4. Dapat mengidentifikasikan keadaan atau suasana cerita,
  5. Dapat mengandung beberapa pengertian, misalnya tempat atau suasanan (Jones, 1969:28-29).

2.2.2        Tema

Tema adalah gagasan pokok dalam menulis cerita. Tema merupakan unsur penting dalam cerita. Tanpa tema, cerita yang akan ditulis tidak akan mempunyai arah atau tempat pijakan. Nurgiantoro (2000:83) membagi tema menjadi dua, yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor adalah makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan umum karya sastra itu, sedangkan makna-makna tambahan adalah tema minor. Dalam karya sastra, tema-tema cerita diambil dari permasalahan-permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Tema yang diangkat oleh pengarang sering kali berhubungan dengan ideologi pengarang, latar belakang sosial budaya, agama, dan latar belakang pendidikan. Tema cerita tidak ditunjukkan secara eksplisit, tapi berbaur dengan fakta-fakta cerita. Menurut Esten ( 1990:92) ada tiga cara menentukan tema, yaitu :

  1. Menentukan persoalan mana yang menonjol;
  2. Menentukan persoalan mana yang paling banyak menimbulkan konflik; dan
  3. Menentukan persoalan mana yanag membutuhkan waktu penceritaan.

 

2.2.3        Penokohan

Tokoh merupakan unsur yang sangat penting dalam karya sastra. Tanpa tokoh cerita, karya sastra ( prosa ) tidak bisa berjalan, karena tokohlah yang bertugas menyampaikan cerita ( informasi/amanat ) kepada pembaca. Sudjiman ( 1988:16 ) menyatakan bahwa tokoh cerita adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa dan perlakuan dalam berbagai peristiwa cerita. Peran tokoh dalam cerita dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tokoh utama dan tokoh bawahan. Tokoh utama adalah tokoh yang memegang peranan  penting dalam cerita, sedangkan tokoh bawahan adalah tokoh yang kemunculannya mendukung tokoh utama.

 

2.2.4        Alur

Alur merupakan suasana cerita. Setiap pengarang mempunyai cara untuk menyusun ceritanya. Oemarjati ( 1967) menyatakan alur adalah struktur penyususnan kejadian-kejadian dalam cerita yang disusun secara logis dan rangakaian kejadian itu saling terjalin dalam hubungan kualitas. Secara umum setiap cerita selalu terdiri atas tiga bagian cerita, yaitu awal cerita, klimak cerita, dan penyelesaisn cerita. Tasrif ( 1981:17) menjadi alur menjadi lima bagian.

  1. Situation, pengarang menggambarkan suasana awal cerita. Pada tahapan ini belum ada konflik. Pengarang hanya memperkenalkan tokoh-tokoh dan situasi.
  2. Generating Circumstances ( cerita mulai bergerak ). Pada tahapan ini pengarang mulai mengenakan konflik pada tokoh cerita.
  3. Rising Action, cerita mulai memuncak. Pada tahapan ini persoalan-persoalan mulai menuju puncak.
  4. Climax, cerita mencapai puncak. Pada tahap ini konflik yang dialami para tokoh mencapai puncak.
  5. Denoument atau penyelesaian. Pada tahap ini pengarang memberi  penyelesaian dari permasalahan-permasalahan yang ada.

Berdasarkan susunan peristiwa-peristiwa dalam cerita, alur dapat dibedakan menjadi dua, yaitu alur lurus dan alur sorot balik atau flash back. Susunan alur lurus terjadi apabila peristiwa-peristiwa dalam cerita disusun mulai dari situation, generating circumstances, rising action,climax, dan denoument. Alur sorot balik biasanya terjadi apabila susunan peristiwa dalam cerita disusun terbalik menjadi denoument, climax, risig action, generating circumstances, situation.

Berdasarkan cara penyelesaian permasalahan yang ada dalam cerita, terdapat dua macam alur, yaitu alur terbuka dan alur tertutup.  Alur tertutup terjadi apabila penyelesaian persoalan ( denoument ) diberikan oleh pengarang. Alur terbuka terjadi apabila penyelesaian persoalan dalam cerita diserahkan pada pembaca. Prosa Indonesia cenderung menggunakan alur tertutup.

 

2.2.5        Setting atau Latar

Latar adalah konteks terjadinya peristiwa dalam cerita atau lingkungan yang mengelilingi pelaku. Peristiwa dalam cerita harus tergambar dengan jelas lokasi dan waktu. Dalam cerita konvensional, penggambaran latar biasanya jelas, kecuali dalam karya sastra absurd  atau simbolik. Dalam karya sastra absurd biasanya unsur-unsur karya sastra seperti tokoh, alur dan latar dikacaukan, sedangkan dalam karya simbolik penunjukan latar biasanya disamarkan. Penyajian latar yang berhasil akan menciptakan warna kedaerahan yang kuat sehingga dapat menghidupkan cerita (Lubis, 1981:21).

Nurgiantoro (2000:17) menyatakan ada dua fungsi latar, yaitu :

  1. Untuk menggambarkan situasi (ruang dan waktu ).
  2. Untuk proyeksi keadaan bathin para tokoh cerita.

Ada beberapa jenis latar, yaitu :

  1. Latar tempat.

Latar tempat adalah penggambaran tempat terjadinya peristiwa, baik ditempat di dalam atau di luar rumah yang melingkupi tokoh.

  1. Latar lingkungan kehidupan.

Latar lingkungan kehidupan megarah pada lingkungan tokoh. Lingkungan kehidupan berhubungan dengan latar tempat dan sistem kehidupan, serta lebih luas dari latar tempat.

  1. Latar sistem kehidupan.

Latar sistem kehidupan merupakan aturan-aturan yang berlaku dalam lingkungan kehidupan tertentu. Latar sistem kehidupan berhubungan dengan latar  tempat dan lingkungan kehidupan.

  1. Latar alat.

Latar alat merupakan alat-alat yang digunakan dalam cerita.

  1. Latar waktu.

Latar waktu  berhubungan dengan waktu terjadinya peristiwa dalam cerita.

 

2.2.6        Pusat Pengisahan atau Point Of View.

Pusat pengisahan atau point of view adalah salah satu bentuk teknik penceritaan yang digunakan oleh pengarang untuk memperkaya ceritanya. Pusat pengisahan atau point of view adalah posisi pengarang dalam cerita atau sudut pandang bercerita.

 

 

 

2.2.7        Penundaan dan Pembayangan  ( suspense and foreshadowing ).

Suspense and foreshadowing adalah cara menyusun cerita sehingga pembaca selalu ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya. Suspense and foreshadowing berhubungan erat dengan alur.

 

2.2.8        konflik

Keberadaan konflik dalam cerita sangatlah penting. Tanpa adanya konflik, certa akan datar dan hambar. Konflik membuat cerita lebih hidup dan dinamis. Secara umum konflik menurut Wellek dan Waren (1989) menyatakan konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanga aksi-aksi balasan.

Tarigan ( 1984 : 134 ) membagi konflik menjadi lima macam, yaitu :

  1. Konflik  antara manusia dan manusia,
  2. Konflik antara manusia dan masyarakat,
  3. Konflik  antara manusia dan alam,
  4. Konflik antara ide yang satu dengan ide yang lainnya, dan
  5. Konflik antara seseorang dengan kata hatinya atau  dash ich-nya.

 

2.2.9        Bahasa dan Gaya.

Bahasa dan gaya dalam istilah Stanton adalah style and tone. Style and tone merupakan penggunaan bahasa, gaya bahasa, dan gaya kepengarangan. Gaya bahasa berbeda dengan gaya penulisan. Gaya bahasa berhubungan dengan pemanfaatan figurative language. Gaya penulisan berkaitan dengan gaya ( kebiasaan ) menulis. Menurut Soemardjan dan Saini ( 1986 : 92 ) gaya adalah cara khas pengungkapan pengarang, cara memilih tema, dan menceritakannya dalam sebuah cerpen.

 

2.3            Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik sebuah karya sastra dari luarnya menyangkut aspek sosiologi, psikologi, dan lain-lain. Tidak ada sebuah karya sastra yang tumbuh otonom, tetapi selalu pasti berhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra, dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra, kebudayaan lingkungan, pembaca sastra, serta kejiwaan mereka. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri. Untuk melakukan pendekatan terhadap unsur ekstrinsik, diperlukan bantuan ilmu-ilmu kerabat seperti sosiologi, psikologi, filsafat, dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

3.1  Kajian Struktural

Berdasrkan penjelasan mengenai pengertian kajian structural, maka pembahan mengenai kajian tersebut adalah sebagai berikut :

3.2   Kajian unsur  intrinsik

3.2.1        Judul.

Dalam novel saman ini judul menggambarkan tokoh utama. Novel ini  menceritakan seorang romo yang benama asli Athanasisus Wisanggeni yang akhirnya merubah namanya menjadi Saman karena dipermainkan oleh  kerasnya kehidupan dan pemerintah. Saman juga menjadi aktivis untuk membela rakyat yang tertindas oleh para penguasa di daerah pedalaman Sumatra.

3.2.2        Tema.

Dalam sebuah novel terdapat dua tema, yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor yang terkandung dalam novel Saman adalah tentang perjuangan. Sedangkan tema minor dalam novel Saman ini adalah perjuangan seseorang dalam mencari keadilan bagi masyarakat tertindas. Hal ini  diperkuat dengan adanya beberapa fakta yang ada dalam novel salah satunya perjuangan Saman ketika sedang berusaha untuk menyelamatkan masyarakat dari kejahatan yang dilakukan oleh para penguasa yang akan menipu masyarakatnya. selain itu pula, perjuangan hidup Saman ketika ditangkap dan disiksa karena dianggap sebagai musuh bagi para penguasa. Saman dianggap provokator bagi Para penguasa karena dianggap telah mempengaruhi masyarakat agar tidak menandatangi perjanjian.

 

 

3.2.3        Penokohan.

Dalam novel Saman ini ada beberapa tokoh yang ikut berperan di dalamnya. Ada dua macam tokoh dalam sebuah novel, yaitu tokoh utama dan tokoh bawahan. Tokoh utama dalam novel ini adalah Athanasisus Wisanggeni atau Saman. Sedangkan tokoh bawahan dalam novel ini terdiri dari Laila, Yasmin, Sihar, Cok, Shakuntala, Upi, Keluarga Upi, Bapak Saman, Pater Westenberg, Suster, Rosano, Hasyim dan masyarakat.

 

3.2.4     Alur.

Alur yang digunakan oleh pengarang dalam menuliskan novel Saman ini adalah alur maju atau alur lurus. Hal ini ditandai dengan adanya perkenalan tokoh-tokoh yang ada dalam novel saman. Selanjutnya dilanjutkan dengan munculya permasalah-permasalahn yang dikenai kepada tokoh. Kemudian dilanjutkan dengan klimaks dan di akhiri dengan adanya penyelesaian dari permasalah yang terjadi. Penyelesaian dalam novel ini adalah terbuka. Hal ini ditandai dengan tidak adanya penyelesaian yang diberiakan oleh pengarang.  Pembaca dibiarkan mengira-ngira tentang akhir cerita dari novel Saman ini.

3.2.5        Setting atau Latar.

Latar yang ada dalam novel ini terdiri dari bebrapa latar, diantaranya :

  1. latar tempat.

Latar tempat yang ada dalam novel ini adalah :

  1. Pedalaman Sumatra.

Latar ini digunakan ketika tokoh Saman kembali ke tempat asalnya di Sumatera,  khususnya di daerah Perabumulih yang masih merupakan kota minyak di tengah Sumatera Selatan. Daerah Seikumbang yang juga merupakan salah satu daerah di Pedalaman Sumatera yang menjadi tempat terjadinya konflik, yaitu tempat di mana Saman ditangkap.

  1. New York.

Di negeri ini Laila dan Sihar bertemu. Lebih tepatnya di Central Park. Tetapi Sihar tidak datang untuk menepati janjinya untuk bertemu dengan Laila.

  1. Laut Cina Selatan.

Di lokasi ini terjadi suatu peristiwa di mana teman dari Sihar meninggal dunia karena mengalami kecelakaan pada saat proses pengeboran minyak. Selain peristiwa kecelakaan ini, Laut Cina Selatan juga merupakan tempat pertama kali Laila bertemu dengan Sihar.

  1. Gereja.

Gereja merupakan tempat di mana Athanasius Wisanggeni dikukuhkan menjadi seorang pastur oleh seorang bapak uskup.

  1. Medan, Singapura, Amerika dan Australia.

Keempat tempat tersebut digunakan oleh saman sebagai tempat untk melarikan diri dan bertempat tinggal untuk sementara waktu, khususnya di apartemen Sydney.

  1. Pejara.

Penjara merupakan tempat saman disiksa karena dia dituduh sebagai provokator yang menghasut masyarakat agar tidak menandatangani perjanjian yang dilakuka antara masyarakat dan pemilik perkebunan.

  1. Palembang.

Tempat bertemunya Laila dan Sihar untuk menemui Yasmin.

 

2. Latar Lingkungan Kehidupan.

Latar lingkungan kehidupan dalam novel ini adalah sebuah pulau dan sebuah Negara. Pulau ini digunakan sebagai latar lingkungan kehidupan oleh pengarang ketika Saman kembali ke tempat asalnya di Sumatera. Sedangkan Negara digunakan oleh pengarang sebagai latar ketika Laila berjanji untuk bertemu dengan Sihar.

3. Latar Sistem Kehidupan.

Latar sistem kehidupan yang ada dalam novel ini adalah adanya perbedaan status sosial antara para transmigran dan orang yang  punya jabatan pada suatu perusahaan. Para tansmigran selalu mengalami penderitaan yang disebabkan oleh sikap semena-mena oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan.

  1. Latar alat.

Latar alat yang ada dalam novel ini adalah sebagai berikut :

  1. Alat transportasi,

Latar alat transportasi yang banyak digunakan para tokoh yang ada pada novel Saman adalah pesawat, mobil, truk. Pesawat digunaka oleh tokoh Saman ketika sedang melarikan diri ke luar negeri.

  1. Komputer.

Saman dan Yasmin menggunaka media komputer, khususnya email untuk mencari dan memberikan informasi. Selain untuk alat  berkomunikasi antara Yasmin dan Saman.

  1. Telepon.

Laila sering menggunakan telepon untuk berhubungan dengan Sihar. Selain dengan sihar, Laila juga menggunakan telepon untuk berkomunikasi denga semua sahabatnya.

  1. Surat.

Surat digunakan Saman untuk mengabari tentang keadaan Saman. Dan Laila juga menggunakan surat untuk berhubungan dengan Saman.

  1. Mesin pengebor minyak.

Digunakan oleh Sihar dan teman-temannya untuk bekerja di tempat pengeboran minyak.

  1. Alat-alat pertukangan.

Alat pertukangan digunakan ketika tokoh Saman membuat sebuah pondok untuk Upi.

  1. Alat kejutan listrik.

Alat ini digunakan oleh orang-orang yang menyiksa Saman ketika masuk penjara.

  1. Latar waktu.

Latar waktu yang digunakan dalam novel ini adalah :

  1. Pagi.

Latar ini banyak digunaka oleh pengarang untuk menggambarkan latar waktu pada setiap ceritanya. Contohnya latar waktu pagi hari salah satunya adalah ketika Laila menunggu Sihar di Central Park.

  1. Siang.

Latar siang juga banyak digunakan dalam novel Saman ini. Contohnya  ketika laila dan Sihar bertemu dengan Yasmin di Palembang.

  1. Malam.

Salah satu contoh latar waktu khususnya malam hari digambarkan oleh pengarang ketika Saman tidur.

3.2.6        Point of View atau pusat pengisahan.

Point of view dalan novel ini adalah pengarang sebagai Author Participant ( metode orang pertama ). Dalam Author Participant masih dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu Main Character dan Subordinat Character. Main Character maksudnya sebutan “aku” yang digunakan  untuk menyebut tokoh utama, sedangkan Subordinat Character maksudnya pengarang menyebut “aku” untuk tokoh bawahan. Jadi, metode yang digunkan oleh pengarang adalah Main Character. Karena pengarang menyebut “aku” untuk peran tokoh-tokoh yang ada dalam novel.

 

3.2.7.   Penundaan dan Pembayangan ( Suspense and Foreshadowing ).

Dalam novel Saman ini pengarang menggunakan alur lurus dalam menggambarkan keseluruhan ceritanya. Namun, sekalipun pengarang menggunakan alur lurus Suspense and Foreshadowing tetap muncul atau ada. Hal ini ditandai dengan adanya rasa penasaran yang akan dirasakan oleh para pembaca ketika membaca novel Saman ini karena adanya kisah lanjutan dari  novel Saman yaitu novel Larung.

 

3.2.8 konflik.

Banyak konflik yang terjadi dalam novel Saman. Berikut ini akan dijabarkan secara lengkap tentang konflik-konflik yang terjadi dalam novel.

  1. konflik antara manusia dan manusia.

konflik ini digambarkan ketika Sihar mengingatkan Rosano tentang keadaan bahaya yang akan terjadi jika proses pengeboran minyak tetap dilanjutkan. Dan akhirnya, terbukti dengan adanya kecelakaan yang di alami oleh sahabat baik Sihar yaitu yang bernama Hasyim.

  1. Konflik antara manusia dan masyarkat.

Konflik ini digambarkan ketika masyarakat Sei Kumbang dengan para pesuruh atau orang – orang yang ditugaskan untuk menganbil alih kebun karet mereka.

  1. Konflik antara manusia dan alam.

Konflik ini digambarkan ketika Saman melarikan diri ke hutan dan akan digigit oleh ular Kobra, Saman  diselamatkan oleh suara – suara yang dia kira adalah adiknya yang telah mati. Hal lain yang juga terlihat dari hubungan atau pekerjaan yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat transmigrasi yang bekerja dengan membuka lahan karet dan sebagainya.

  1. Konflik antara ide yang satu dan ide yang lain.

Konflik ini terlihat ketika adanya perbedaan pendapat yang terjadi antara masyarakat Sei Kumbang dan Saman dengan para orang – orang suruhan pejabat yang menginginkan lahan mereka untuk tidak ditanami karet tapi ditanamai Kelapa Sawit dan mereka juga ingin para penduduk untuk menandatangani blanko kosong untuyk mendapatkan dan menguasai lahan milik masyarakat.

  1. Konflik antara seseorang dan kata hatinya atau dash ich-nya.

Konflik ini terlihat dari perguncangan batin yang terjadi pada diri Saman dan Yasmin ketika mereka berselingkuh. Mereka berdua kebingungan apakah yang mereka berdua lakukan benar atau salah dimata masyarakat.

3.2.9 Bahasa dan Gaya.

Gaya penulisan novel ini pengarang cenderung detail mengungkapkan tokoh maupun setting dalam setiap peristiwa yang terjadi. Sedangkan bahasa yang digunakan oleh pengarang adalah bahasa yang sering digunakan untuk berkomunikasi sehari – hari. Hal ini dilakukan untuk membuat pembaca dapat lebih mengerti apa yang ingin disampaikan oleh pengarang.

3.3.            Kajian Unsur Ekstrinsik

Kajian ekstrinsik dalam novel ini mengangkat realita tentang konflik sosial yang umumnya terjadi dalam masyarakat.  Hal ini dapat terlihat dari masalah penindasan rakyat kecil yang dilakukan oleh orang – orang yang memiliki kekuasaan. Contoh konflik yang lainnya adalah masalah perselingkuhan yang terjadi dalam masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

5.1                    Kesimpulan.

Dari analisis  novel Saman yang dilakukan penulis, dapat ditarik kesimpulan bahwa novel ini sangat menarik untuk dibaca karena ceritanya banyak mengangkat tentang realita – realita kehidupan yang banyak terjadi pada masyarakat umumnya. Dan juga tentang sikap pejabat atau orang yang memiliki kedudukan yang tidak mau memikirkan nasib rakyat kecil.  Selain itu juga ada cerita tentang perselingkuhan yang pada saat itu banyak terjadi dalam masyarakat yang dapat merusak norma – norma yang ada dalam masyarakat. Novel ini juga dapat sebagai cermin bagi masyarakat untuk berubah menjadi lebih baik.

5.2                    Saran  & Kritik

Setelah membaca analisis yang penulis lakukan diharapkan para pembaca dapat memberikan saran dan kritik yang sifatnya membangun pada analisis yang penulis lakukan. Sehingga hal itu dapat menjadi masukan bagi penulis untuk menjadi lebih baik lagi dalam menuis makalah berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Utami, Justina Ayu. 1998. Saman. Jakarta : KPG ( Kepustakaan Populer gramedia).

Maslikatin, Titin. 2007. KAJIAN SASTRA : Prosa, fiksi dan Drama. Jember : UNEJ Prees.

S.U, Kutha Ratna, Nyoman. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra Dari Strukturalisme Hingga Postkolonialisme Persepektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

( Wikipedia bahasa Indonesia dan ensiklopedia bebas ).

http://btkp.ictjogja.net/pembelajaran/2008/_sma/indonesia/bindo8/pengertianunsurekstrinsik.php

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULAN

 

1.1                                                                                   Latar Belakang  Masalah

Dalam kehidupan sehari-hari kita semua sudah pasti tidak asing lagi dengan istilah puisi. Puisi merupakan pancaran kehidupan sosial, gejolak kejiwaan dan segala aspek yang ditimbulkan oleh adanya interaksi baik secara langsung ataupun tidak langsung, secara tidak sadar atau tidak dalam suatu masa atau periode tertentu. Sehingga pancaran itu sendiri berlaku untuk sepanjang masa selama nilai-nilai estetis  dari sebuah karya puisi itu berlaku dalam masyarakat. Hal inilah yang membuat penulis ingin sekali mengangkat puisi sebagai bahan penelitiannya. Selain itu, dalam puisi juga menggunakan bahasa yang indah sehingga pembaca tidak akan merasa bosan saat membacanya dan akan menemukan keindahan didalamnya.

Buku kumpulan puisi yang berjudul Rumah Panggung adalah salah satu dari buku-buku karya Linus Suryadi AG. yang telah diterbitkan. Rumah panggung adalah kumpulan puisi yang menarik karena menggambarkan suatu keadaaan yang ada disuatu tempat, berikut dengan sistem kehidupan dan lingkungan kehidupan yang ada di tempat tersebut. Tempat yang digambarkan dalam puisi tersebut adalah Pulau Bali, pulau yang penuh dengan keindahan sehingga menarik untuk diteliti.

Pendekatan struktural adalah pendekatan yang digunakan dalam makalah ini karena dengan meneliti unsur-unsur instrinsik struktur puisi ini maka kita akan tahu tema, tempat, waktu sistem kehidupan dan lingkungan kehidupan di suatu tempat yang belum kita tahu sebelumnya.

 

 

1.2                                                                                   Permasalahan

1)                                                               Apakah judul dari kumpulan puisi karya Linus Suryadi AG. ?

2)                                                               Apakah tema dalam buku kumpulan puisi tersebut?

3)                                                               Bagaimanakah irama dalam puisi-piuisi karya Linus Suryadi AG. tersebut, termasuk nada dan temponya?

4)                                                               Bagaimana diksi yang digunakan dalam buku kumpulan puisi tersebut?

5)                                                               Apa sajakah latar yang digunakan dalam puisi-puisi tersebut?

1.3                                                                                   Tujuan Pembahasan

1.3.1 Tujuan

  1. Meningkatkan kegiatan apresiasi karya sastra.
  2. Meningkatkan dan mengembangkan kajian ilmu pengetahuan khususnya tentang unsur-unsur  dalam puisi.
  3. Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai khasanah karya sartra terutama tentang puisi.

1.3.2 Manfaat

  1. Mendeskripsikan judul apakah yang ada dalam buku kumpulan puisi karya Linus Suryadi AG.
  2. Mendeskripsikan tema apa yang diangkat oleh Linus Suryadi AG. di dalam bukunya.
  3. Mendeskripsikan irama yang digunakan dalam puisi-puisi Linus Suryadi AG. termasuk  juga tempo dan nadanya.
  4. Mendeskripsikan diksi apa saja yang dipaai oleh Linus dalam puisi-puisinya tersebut.
  5. Mendeskripsikan latar apa saja yang digunakan dalam pusi-puisi Linus untuk melogiskan puisi-puisinya.

 

 

1.4                                                                                   Tinjauan Pustaka

Buku kumpulan puisi yang berjudul Rumah Panggung karya Linus Suryadi AG. adalah buku kumpulan buku yang belum pernah diteliti oleh siapapun, baik dari bidang sastra ataupun secara linguistik.

1.5                                                                                   Kerangka Teori

Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.

 

1.6                                                                                   Metode Penelitian

Metode penelitian dalam makalah ini yaitu dengan menggunakan metode penelitian kualitatif.  Dalam penelitian kualitatif diusahakan pengumpulan data secara deskriptif yang kemudian ditulis dalam laporan. Data yang diperoleh dari penelitian ini berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka. Buku kumpulan puisi berjudul Rumah Panggung karya Linus Suryadi AG. Menggunakan metode pendekatan struktural, yang digunakan untuk membahas unsur-unsur instrinsik di dalam karya sastra.

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN STRUKTURAL

2.1 Judul

Sebagai kepala karangan peran judul sangat penting. Judul merupakan kontak pertama antara pengarang dan pembaca. Oleh karena itu, judul harus menarik agar pembaca terpikat untuk membaca. Judul karangan dapat menunjukkan unsur-unsur tertentu dari karya sastra, yaitu:

  1. Dapat menunjukkan tokoh utama;
  2. Dapat menunjukkan alur atau waktu; terdapat pada cerita yang disusun secara kronologis
  3. Dapat menunjukkan objek yang dikemukakan dalam sebuah cerita;
  4. Dapat mengidentifikasi keadaan atau suasana cerita;
  5. Dapat mengandung beberapa pengertian, misalnya tempat dan suasana (Jones, 1968:28-29)

 

Buku kumpulan puisi karya Linus Suryadi AG. berjudul Rumah Panggung. Judul puisi ini terkandung pada salah satu puisinya yang berjudul Rumah Panggung. Berikut petikan puisinya

RUMAH PANGGUNG

Rumah-rumah upacara bagai panggung

Beratap ijuk. Sunyi. Tak terlindung

Rumah-rumah upacara di kaki gunung

Ah, kita di Besakih. Di kaki gunung Agung

(Rumah Panggung, 1988:49)

 

Rumah panggung diambil karena isi dari puisi tersebut menceritakan apa yang dilihat Linus saat berada di Pulau Bali, yaitu rumah-rumah yang bebantuk panggung yang digunakan untuk bersembahyang oleh para penduduk setempat. Oleh karena itu, pengarang memberikan judul Rumah Panggung untuk judul bukunya ini.

2.2  Tema

Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan. Penyair ingin menyampaikan sesuatu pada penimatnya. Sang penyair melihat atau mengalami beberapa kejadian dalam kehidupannya ataupun kehidupan masyarakatnya sehari-hari.

 

Tema yang tersirat dalam buku kumpulan puisi ini yaitu sisi lain Pulau Bali. Karena hamper semua isi dari puisi Linus bercerita tentang Pulau Bali dan sisi lain dari pulau dewata yang terkenal indah. Berikut ini adalah petikan puisi yang menggambarkan sisi lain Pulau Bali.

PULAU BALI

Bagimu pulau Bali pulau pesiar

Bagiku masa lampau yang terhampar

Baginya jagad utuh tak tertawar

Tapi bagi siapa: hidup kembali segar dan mekar!

 

Tak perlu spanduk model seminar

Jargon penjual jamu di pasar-pasar

Hidup cantik yang terawatt baik,

Berujar: “Welcome to Bali. Anda tak kesasar.”

(Rumah Panggung, 1988:36)

 

Dari puisi diatas kita dapat memetik suatu kesimpulan bahwa selain pulau yang sangat indah, pulau yang menarik para turis dengan kemolekan alamnya, ternyata bagi Linus, Pulau Bali hanyalah masa lampau yang terhampar luas, tertata dengan indah dan alamiah di suatu pulau kecil yang terpisah. Pulau yang sangat indah tersebut hanya berupa peninggalan masa lampau dari masyarakat kuno di Bali yang memiliki masa suram sendiri dan menjadi daya tarik bagi semua orang. Ternyata baru kita ketahui banyak sekali hal yang bertolak belakang dari wajah Pulau Bali yang sangat cantik tersebut, bahwa semua itu hanyalah masa lampau yang menarik.

2.3  Irama

Irama yaitu pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembutnya ucapan bunyi bahasa dengan teratur.

2.3.1 Nada ( Tone )

Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll. Contoh nada terdapat dalam salah petikan puisi berikut ini.

 

PERSAMAAN TERSAMBAR

Kau rela memeri dan menerima apa saja

Apa yang aku minta yang ada padamu

Apa yang aku beri yang ada padaku

Inikah yang kau kira, hakikat hidup bercinta?

(Rumah Panggung, 1988:136)

Dalam petikan puisis diatas, pengarang mencoba bertanya kepada pembaca dan mencoba membuat pembaca merasa bodoh. Karena pengarang mengajukan pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, atau dengan kata lain menyindir pembaca tentang apajah hakikat hidup bercinta itu.

 

2.3.2 Tempo

Cepat lambatnya pengucapan (suara). Kita harus pandai mengatur dan menyesuaikan dengan kekuatan nafas. Di mana harus ada jeda, di mana kita harus menyambung atau mencuri nafas. Contoh tempo terdapat dalam salah petikan puisi berikut ini.

 

BETLEHEM

Kudengar jerit cenger suara bayi

Kudengar segar, polos, dan sunyi

Bergelung-gelung di dalam rongga malam

O, kudengar jerit  batinku sendiri

(Rumah Panggung, 1988:132)

 

Dalam petikan puisi diatas, pengarang menggunakan jeda yang sangat jelas, yaitu dengan memberikan tanda baca koma untuk memperjelas temponya, yaitu agar tempo pengucapannya diperlambat agar tidak terkesan terburu-buru.

 

2.4 Diksi

Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik). Diksi yang digunakan yaitu memiliki makna denotatif dan makna konotatif.

 

  1. Makna Denotatif

 

Makna denotatif yaitu kata yang tidak mengandung makna atau perasaan-perasaan tambahan. Dalam bentuk murni, makna denotatif dihubungkan dengan bahasa ilmiah. Seorang penulis hanya ingin menyampaikan informasi kepada kita, dalam hal ini khusunya dibidang ilmiah, akan berkecenderungan  untuk menggunakan kata-kata yang denotatif.   Berikut ini adalah puisi Linus yang menggunakan makna denotatif

 

SENJA

Gadis-gadis demuk dan ramping berjalan

Gadis-gadis menyunggi banten.

Dengung gamelan

Kau tertambat pada kain dan selendang

Gadis-gadis gemuk dan ramping melenggang pergi ke upacara Odalan

(Rumah Panggung, 1988:47)

 

Dari puisi diatas dapat kita analisis, bahwa tidak ada penambahan apapun di dalam kata-kata yang dipakai. Semuanya menggunakan makna yang sesungguhnya. Meginformasikan bahwa ada beberapa gadis gemuk dan beberapa gadis ramping yang berjalan dengan menggunakan kain dan selendang  untuk pergi ke upacara Odalan. Semua itu berupa informasi yang bisa langsung kita tangkap maknanya tanpa harus mencari makna tersembunyi. Krena kata-kata yag digunakan adalah kata-kata yang ilmiah. Sehingga puisi ini merupakan puisi yang bermakna denotatif.

 

  1. Makna Konotatif

 

Makan konotatif adalah makna kata yang mengandung arti tambahan, perasaan tertentu, atau niali rasa tertentu disamping makna dasar yang umum digunakan. Makna konotatif sebagian besar terjadi karena pembicara ingin menimbulkan perasaan setuju – tidak setuju, senang – tidak senang  dan sebagainya kepada pihak pendengar; di pihak lain, kata yang dipilih itu memperlihatkan  bahwa pembicaraan juga memendam perasaan yang sama. Berikut ini adalah petikan dari puisi Linus yang menggunakan makna konotatif.

 

EMBUN

Embun telah menjadi perhiasan jagad pagi

Embun yang menggigilkan panca indra kita

Embun pikir dan rasa.

Embun dieantero bumi

Megahlah, tertimpa sinar matahari sunyi

(Rumah Panggung, 1988:55)

Dari petikan puisi di atas, kita tidak bisa langsung mengartikan makna apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis. Karena embun tidak bisa di pakai sebagai perhiasaan dan yang bisa dijadikan perhiasan adalah benda-benda padat yang biasanya diapaki oleh kaum wanita seperti anting dan kalung. Namun, dalam puisinya, Linus menggunakan kata Embun sebagai perhiasan, maksudnya yaitu embun yang turun di bumi saat pagi hari, menghiasi lingkungan sekitar. Udara menjadi lembab karena air, dan biasanya hal itu yang terjadi saat pagi hari. Karena kata-kata pada puisi berjudul Embun tidak bisa diartikan secara langsung, maka puisi tersebut bermakna konotatif.

2.5 Latar / Setting

Latar adalah konteks terjadinya peristiwa dalam cerita atau lingkungan yang mengelilingi pelaku. Peristiwa dalam cerita harus tergambar dengan jelas lokasi dan waktu.

Pradopo (1975/1976:37) membagi aspek latar berdasarkan fungsinya menjadi lima bagian. Kelima fungsi tersebut adalah:

2.5.1 Latar Tempat

Latar tempat merupakan penggambaran tempat terjadinya peristiwa, baik tempat di dalam atau di luar rumah yang melingkupi tokoh. Latar tempat yang digunakan pengarang yaitu seperti yang ada di salah satu petikan puisi berikut ini

PULAU KARANG

Bagaikan pulau karang

Di pura Tanah Lot

Kecil dan lengang

Terpencil dari alam keramaian

(Rumah Panggung, 1988:42)

Dari petikan puisi di atas kita bisa langsung mengetahui latar tempat yang digunakan, yaitu di pura Tanah Lot. Tanah Lot digunakan sebagai tempat yang menggambarkan sisi lain Pulau Bali yang sangat terpencil, jauh dari keramaian kota. Menggambarkan juga bahwa masih ada tempat yang sangat terpencil dan sepi di Pulau Bali, pulau yang terkenal dengan keramaiannya dan banyak dikunungi oleh turis-turis mancanegara dan turis-turis lokal dan latar tempat yang digunakan ini sangatlah cocok dengan tema yang diangkat oleh pengarang.

2.5.2 Latar Waktu

Latar waktu berhubungan dengan waktu terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar waktu dapat berupa detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, atau musim. Berikut ini adalah latar waktu yang digunakan oleh pengarang dalam petikan puisi untuk melogiskan puisi-puisinya.

KADISOBO

Tiap fajar tiba dan senja turun

Selalu terlihat ratusan bangau

Bercanda sambil berayun-ayun di ranting

(Rumah Panggung, 1988:99)

Dari petikan puisi diatas kita dapat mengetahui bahwa latar waktu yang ditunjukkan oleh pengarang adalah saat fajar tiba, ialah saat matahari belum terbit dan masih belum menampakkan diri. Namun pada saat itu, bangau-bangau yang ada di Kadisobo sedang bercanda dalam arti, mereka semua  sedang berkumpul dan mencari makan. Dan ketika senja turun, saat matahari sudah mulai kembali ke peraduannya, bangau-bangau tersebut masih berkumpul dengan kelompokmya untuk menacri makan lagi atau hanya sekedar berkumpul bersama dengan kelompoknya.

2.5.3 Latar Alat

Latar alat merupakan alat-alat yang digunakan dalam cerita. Latar alat akan melogiskan cerita, karena sebagai representasi dari kehidupan manusia, tokoh cerita membutuhkan sarana (alat-alat) dalam kehidupannya, misalnya, baju, rumah, kendaraan, makanan dan sebagainya. Latar alat yang digunakan dalam puisinya yaitu terlihat dalam petikan puisi berikut ini

 

LEWAT TENGAH MALAM

Seperti lagu dalam kaset lama berputar kembali

Bergema di tengah ruang.

Jam masuk ke dinihari

Suara drum, saxophone, gitar, bas, dan perkusi

Pada gulungan pita rekaman tertambat, juga mimpi.

(Rumah Panggung, 1988:71)

Dalam petikan diatas sudah dapat kita tentukan alat-alat apa saja yang digunakan dalam puisi-puisi Linus Suryadi AG. untuk melogiskan puisi-puisinya.alat yang digunakan yaitu kaset, drum, saxophone, gitar, bas perkusi dan gulungan pita rekaman. Dari alat-alat yang digunakan diatas kita dapat membayangkan bahwa yang terjadi adalah suara musik yang ramai akibat alat-alat musik tersebut. Puisi tersebut menggambarkan bahwa lewat tengah malam, adalah waktu yang cocok untuk membunyikan alat-alat tersebut, untuk membuat suasana tidak sepi.

 

2.5.4 Latar Lingkungan kehidupan

Latar lingkungan kehidupan menyaran pada lingkungan kehidupan tokoh. Lingkungan kehidupan berhubungan dengan latar tempat dan sistem kehidupan, serta lebih luas dari latar  tempat. Latar lingkungan kehidupan bisa berupa desa, kota, kabupaten, provinsi), pulau, atau Negara.  Latar lingkungan kehidupan yang digunakan yaitu terlihat dalam petikan puisi berikut

 

 

SEBUAH SUARA

Bila kubayangkan Prambanan

Suara membilang Hindu

Bila kubayangkan Borobudur

Suara membilang Buddha

(Rumah Panggung, 1988:79)

Dalam petikan di atas dapat mengetahui bahwa jika kita ingat yentang candi Prambanan, maka yang paling dekat dengan candi tersebut yaitu Hindu, karena orang-orang yang hidup pada zaman itu adalah orang-orang yang mengaut agama Hindu. Dan jika kita ingat Candi Borobudur, maka yang akan terlintas dipikiran kita yaitu agama Buddha. Hal ini disebabkan krena orang-orang yang membuat candi tersebut adalah orang-orang yang beragama Buddha dan selain itu candi tersebut dibangun adalah pada saat kerajaan Buddha sedang berkuasa di Indonesia, khususnya di sekitar Candi Borobudur.

 

2.5.6 Latar Sistem kehidupan

Latar sistem kehidupan merupakan aturan-aturan yang berlaku dalam lingkungan kehidupan tertentu. Latar sistem kehidupan berhubungan dengan latar tempat dan lingkungan kehidupan. Latar sistem kehidupan yang digunakan yaitu terdapat dalam petikan puisi berikut

 

 

 

DI PENDOPO KEBUMEN

Kita saksikan sayembara di Pendopo Mangkubumen

Anatr peguyuban karawitan Jawa se D.I Yogyakarta

Gamelan Slendro & pelog bergema.

Alunan pesinden  melampaui lingkingan bumi kehidupan kota kita

(Rumah Panggung, 1988:68)

Dalam petikan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ada adat istiadat yang masih dilestarikan walaupun di kota. Adat tersebut adalah melakukan sayembara dan di lakukan di pendopo Mangkubumen. Hal itu dengan jelas menggambarkan tentang sistem kehidupan orang Jawa yang masih lekat. Sayembara tersebut dilakukan dengan menggunakan iring-iringan yang berupa gamelan dn Slendro lengkap dengan para pesindennya.

 

2.6   Bahasa dan Gaya

Bahasa dalam karya puisi adalah suatu alat untuk melukiskan atau menggambarkan, menegaskan inspirasi atau ide dalam bentuk bahasa dengan gaya yang personal. Gaya bahasa tidak dapat dipaksakan kehadirannya dalam sebuah karya puisi. Gaya bahasa tergantung pada pendapat atau inspirasi yang ada pada diri kita utuk dituangkan dalam citra sastra. Gaya bahasa dibedakan menjadi bermacam-macam  jenis, berikut adalah mecam-macam gaya bahasa.

a)      Persamaan atau simile

Persamaan atau simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Maksudnya yaitu bahwa ia langsung meyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu, iamengupayaka yang secara eksplisit  menunjukkan kesamaan itu, misalnya dengan menggunakan kata-kata seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, bak, dan sebagainya.

Matanya seteri bintang timur

Berikut adalah puisi Linus Suryadi AG. yang menggunakan gaya bahasa personifikasi

EMBUN

….

Embun yag jatuh bagaikan airmata yang runtuh

Embun berlaksa rencana manusia yang jatuh

….

(Rumah Panggung, 1988:55)

Dari petikan puisi diatas, kita bisa melihat secara langsung apa yang menjadi ciri gaya bahasa personifikasi. Kata bagaikan dan berlaksa menandakan bahwa bait puisi tersebut mengandaikan embun seperti airmata. Selain itu kata berlaksa yang bermakna seperti juga menjadi tanda bahwa bait puisi tersebut menggunakangaya bahasa personifikasi.

 

b)      Metafora

Metafora adalah semacam analogi yang mebandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk singkat: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya. Pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua.  Proses terjadinya sebenarnya sama dengan simile tetapi secara berangsur-angsur keterangan mengenai persamaan dan pokok pertama dihilangkan.

Misalnya

Pemuda bunga bangsa

Berikut ini adalah petikan puisi yang menggunakan gaya bahasa metafora

 

PASKAH

Jesus Kristus, Sang Penebus

Tiap paskah tiba kau ingatkan aku

–Simon Petrus—

(Rumah Panggung, 1988:108)

Dari petikan diatas dapat kita tahu yang menggunakan gaya bahasa metafora yaitu, Jesus Kristus, Dia adalah yang akan menebus semua dosa-dosa manusia di hari Paskah. Hal itulah yang dimaksudkan oleh pengarang dari bait puisinya.

 

c)      Personifikasi

Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa  seolah-olah memiliki sifat yang sama seperti manusia. Personifikasi merupakan suatu corak khusus dari metafora, yang mengkiaskan benda-benda mati bertindak, berbuat, berbicara seperti manusia.

Matahari baru saja kembali ke peraduannya, ketika kami tiba disana.

Berikut ini adalah petikan puisi yang menggunakan majas personifikasi dalam puisinya.

KWATRIN-KWATRIN PAGI DI BALI

(1)

Matahari bangkit di laut Jawa

Wahai! Matahari siapa pula?

Baru kemarin ia tenggelam di lepas Kuta

Sambil meliuk-liukkan pohon kelapa

(Rumah Panggung, 1988:60)

Dalam puisi tersebut, majas personifikasi yang digunakan yaitu pada bait, matahari bangkit dari laut Jawa hal ini menggambarkan matahari yang baru muncul di laut Jawa, namun menggunakan bahasa kiasan yaitu bangkit dan kata ini hanya digunakan oleh manusia ketika bangun dari tidur. Namun, dalam puisi ini, kata bangkit digunakan untuk memperindah kata-katanya. Selain itu, kata tenggelam digunakan untuk menggambarkan senja hari di mana matahari mulai hilang dan berganti malam.

 

d)      Hiperbola

Hiperbola adalah kiasan yang berlebih-lebihan. Hal ini dilakukan oleh para penyair agar mendapat perhatian dari pembaca. Misalnya, aku ingin hidup seribu tahun lagi. Contoh :

GEMBALA GAIB

Aku pun menimbuni lukaMu

Dengan garam dan luka

Sebab teledor dan alpa

O, Gembala ajaib yang gaib!

(Rumah Panggung, 1988:88)

Dalam petikan puisi diatas kata yang menunjukkan majas hiperbola yaitu menimbuni. Akupun menimbuni lukaMu, bait tersebut menggambarkan bahwa tokoh aku menutupi luka Tuhannya, namun menggunakan kata menimbuni agar mearik perhatian pembaca dan agar tercipta suatu keindahan dalam rangkaian kata-katanya.

 

e)      Sinekdoke

Sinekdoke adalah semacam gaya bahasa figuratife yang memeprgunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan ( pars pro toto ) atau mempergunakan keseluruhan untuk sebagian ( totem pro parte ). Misalnya

Setiap kepala dikenakan biaya sumbangan  sebesar Rp. 1000,-

Pertandingan sepak  bola antara Indonesia melawan Malaysia

Berikut ini adlah petikan puisi Linus yang menggunakan gaya bahasa Sinekdoke

 

DOA MALAM

Telah kucium bumi suci

Warisan nenek moyangku

Dimana Aba dan Eba

Turun, pertama kali

(Rumah Panggung, 1988:89)

Dari petikan puisi diatas, terdapat bait yang menandai gaya bahasa sinekdoke yaitu Telah kuciumi bumi suci, secara logika, kita tidak akan bisa mencium seluruh permukaan bumi karena bumi sangatlah luas. Gaya bahsa tersebut yaitu Sinekdoke totem pro parte.

 

 

f)        Metonomia

Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan suatu kata untuk menyatakan suatu kata yang lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Hubungan itu dapat berupa penemu untuk hasil penemuan, pemilik dari suatu barang yang dimiliki, akibat untuk sebab, sebab untuk akibat, isi untuk menyatakan kulitnya, dan senagainya.  Misalnya

Ia membeli sebuah Chevrolet.

Berikut ini adlah petikan sebuah puisi yang menggunakan gaya bahasa metonimia

 

HOROSKOP

Kapan Si Cancer dan Si Virgo ketemu

Keduanya diam.

Selebihnya tak kutahu

Sedang peramal dan perawan termangu:

“Astaga! Banyolan hidup sedang berlaku!”

(Rumah Panggung, 1988:154)

 

Dalam petikan puisi diatas, kita mendapatkan kata Si Virgo dan Si Cancer, kata tersebut sebenarnya adalah sebuah gugusan bintang yang memiliki nama sendiri-sendiri. Namun, pengarang menggunakan kata Si Virgo dan Si Cancer untuk membuat kesan indah pada kata-kata dalam puisinya tersebut.

 

 

 

 

BAB III KESIMPULAN

3.1 Buku kumpulan puisi karya Linus Suryadi AG. berjudul Rumah Panggung. Judul puisi ini terkandung pada salah satu puisinya yang berjudul Rumah Panggung.

3.2 Tema yang tersirat dalam buku kumpulan puisi ini yaitu sisi lain Pulau Bali.

3.3 Irama

  1. Nada ( Tone ) terdapat dalam puisi yang berjudul PERSAMAAN TERSAMBAR
  2. Tempo terdapat dalam puisi yang berjudul BETLEHEM

 

3.4 Diksi yang digunakan yaitu dalam bentuk makna konotatif dan makna denotatif. Makna denotatif terletak pada puisi yang berjudul Senja, dan makna konotatif terletak pada puisi yang berjudul Embun.

3.5 Latar

  1. Latar Tempat terdapat dalam puisi yang berjudul PULAU KARANG
  2. Latar waktu terdapat pada puisi yang berjudul KADISOBO
  3. Latar alat terdapat pada puisi yang berjudul LEWAT TENGAH MALAM
  4. Latar lingkungan kehidupan terdapat pada puisi yang berjudul SEBUAH SUARA
  5. Latar sistem kehidupan terdapat pada puisi yang berjudul DI PENDOPO KEBUMEN

 

 

 

3.6 Bahasa dan Gaya

  1. Persamaan atau simile terdapat pada puisi yang berjudul EMBUN
  2. Metafora terdapat pada puisi yang berjudul PASKAH
  3. Personifikasi terdapat pada puisi yang berjudul KWATRIN-KWATRIN PAGI DI BALI
  4. Hiperbola terdapat pada puisi yang berjudul GEMBALA GAIB
  5. Sinekdoke terdapat pada puisi yang berjudul DOA MALAM
  6. Metonomia terdapat pada puisi yang berjudul HOROSKOP

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Tohari. Mohammad.2003.”Kajian Struktural Manusia dalam Seni Pertunjukan Reog Ponorogo”. Jember: Fakultas Sastra Universitas Jember.

Sayuti. Suminto. A.1985.PUISI DAN PENGEJARANNYA (SEBUAH PENGANTAR).Yogyakarta:IKIP SEMARANG PRESS.

Keraf. Gorys.2008.DIKSI DAN GAYA BAHASA.Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama.

Jalil. Daniel Abdul.1985.TEORI & PERIODISASI PUISI INDONESIA.Bandung:Angkasa Bandung.

Tarigan.Henry Guntur.1993.PRINSIP-PRINSIP DASAR SASTRA.Bandung:Angkasa Bandung.

AG. Linus Suryadi.1988.Rumah Panggung.Yogyakarta:Nusa Indah.

Maslikatin, titik.2007.KAJIAN SASTRA Prosa, Puisi, drama. Jember.UNEJ Press.

Nurgiantoro, Burhan.2000.Teori Pengkajian Fiksi.Yogyakarta:Gajah Mada University Press.

Somardjo,Jakob dan Saini K.M.1986.IApresiasi kesusastraan.IJakarta:Gramedia.

Stanton,Robert.1965.An Introduction to Fiction.New York:Holt Rinehart.

file:///F:/Ly@_Data/teknik%20pembacaan%20puisi.htm

 

 

asembagus

 

Kecamatan Asembagus adalah salah satu kecamatan di kabupaten Situbondo yang terletak di timur. Ada 10 desa di kecamatan Asembagus dengan kondisi aspal dan dapat dilalui kendaraan roda 4 (empat).keadaan curah hujan salah satunya dipengaruhi oleh keadaan iklim setempat.

Oleh karena itu jumlah curah hujan beragam menurut bulan. Selama tahun 2005 curah hujan dan hari hujan yang tercatat sebanyak 7 bulan dengan rata-rata curah hujan sebanyak 571 mm dengan rata-rata hari hujan 27 hari. Rata-rata curah hujan selama tahun 2005, terbanyak berada pada bulan Maret sebesar 1355 mm dengan banyaknya hari hujan 48 hari.

 

 

CAMAT  :  Drs. BAMBANG SUPENO

Gambaran Umum.

 

Batas Wilayah : Sebelah Utara

 

Sebalah Timur

Sebelah Selatan

 

Sebelah  Barat

:

 

:

:

 

:

Kecamatan Jangkar

Selat Madura

Kecamatan Banyuputih

Kab. Banyuwangi

Kab. Bondowoso

Kecamatan Arjasa

Kecamatan Jangkar

 

Luas Wilayah : Luas Wilayah Kec. Asembagus 118,74 Km2.

 

Perkakas ‹ Alleamomo’s Blog — WordPress

Perkakas ‹ Alleamomo’s Blog — WordPress.

tips irit BBM

Trik Ngirit BBM

 

Setiap kali pemerintah mengumumkan kenaikan harga bbm pasti pemilik kendaraan dibuat cemas. Kenyataan ini membuat kita harus pandai-pandai memutar otak menyiasati asupan BBM. Meskipun perilaku hemat bahan bakar ini tergantung pada pemilik kendaraan, namun tak ada salahnya kita cermati beberapa trik hemat bahan bakar berikut:- Hindari memanaskan mesin terlalu lama, waktu tiga menit adalah waktu yang ideal memanaskan mesin kendaraan Anda. Ketika jarum penunjuk suhu mesin mulai bergerak, Anda sudah bisa menggunakan mobil.

- Lajukan kendaraaan dengan kecepatan konstan, tetapi tetap mampu berakselarasi seperlunya dan bisa memanfaatkan kendaraan untuk bermanuver. Jika Anda ingin melajukan mobil lebih cepat, setelah pedal gas ditekan sedikit, langsung pindahkan gigi ke posisi yang lebih tinggi. Jangan tunggu sampai putaran mesin naik. Dengan melakukan hal ini saja, Anda sudah bisa menghemat konsumsi bahan bakar sebanyak 5-10 persen.

- Jika Anda terpaksa menekan pedal gas cukup dalam, usahakan tidak lebih dari 80%. Manfaatkan gaya dorong mobil untuk melakukan percepatan saat Anda ingin melajukan mobil lebih cepat. Gunakan gigi yang paling tinggi saat Anda sedang melaju cepat di jalan tol. Putaran mesin pun akan tetap rendah, dan pemakaian bahan bakar pun bisa lebih dihemat

- Jika Anda sedang melaju di jalur yang cukup lowong, misalnya di jalan tol, usahakan kecepatan mobil berada di sekitar 70 km/jam. Ini adalah kecepatan yang paling pas dan terhitung ekonomis. Jika Anda melebihi kecepatan tersebut, putaran mesin akan meninggi, dan konsumsi bahan bakar akan semakin boros.

- Jangan injak pedal gas dengan menghentak. Injakan harus stabil dan bertahap, jika gas diinjak tiba-tiba, otomatis bahan bakar yang akan diisap ke ruang bakar semakin banyak, sementara pada saat itu putaran mesin masih rendah. Akibatnya tidak semua bahan bakar yang masuk ke ruang mesin terbakar. Karena, bahan bakar yang masuk tidak keluar dalam bentuk tenaga, tetapi ikut terbuang lewat knalpot. Lajukanlah mobil dengan kecepatan konstan. Jangan terlalu sering menekan pedal gas dan melakukan pengereman mendadak, terutama saat lampu hijau telah berganti. Sebelumnya toh Anda sudah memperhitungkan akan melewati lampu merah?

- Pindahkan tranmisi dengan benar, umumnya mesin mobil bekerja dengan efisiensi pada putaran 2500 hingga 4000 rpm, sehingga pergantian gigi harus diusahakan sesuai daerah putaran.

- Saat memindahkan gigi persneling, sebaiknya pada rpm yang sesuai spesifikasi kendaraan. Spesifikasi ini dapat dilihat pada buku manual kendaraan atau dibrosur iklan yang biasanya terdapat keterangan mengenai moment maximum (torsi maximum) dalam satuan kgm/rpm. Satu kebiasaan yang seringkali dilupakan pengendara adalah: tidak segera menyesuaikan gigi persneling setelah penurun kecepatan (deselerasi). Setelah berlari kencang lalu tiba-tiba ngerem mendadak, sebaiknya oper gigi perseneling ke posisi lebih rendah.

- Perhatikan penunjukan tekanan pada kendaraan anda, jika tekanannya rendah kerja mesin ringan dan komsumsi BBM irit, jika tekannnya tinggi, kerja mesin berat dan tentu membuat konsumsi BBM makin boros. Coba gunakan Crusie control dimana peralatan ini bisa digunakan untuk menghemat BBM terutama dijalan tol.

- Periksa kondisi HC dan CO. Boros atau tidaknya konsumsi bahan bakar juga ditentukan oleh komponen-komponen mesin. Komponen mesin yang sudah aus membuat pembakaran bahan bakar tak sempurna. Tak ada salahnya Anda memeriksa emisi gas buang. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan nilai HC (hidrokarbon) dan CO (karbonmonoksida) terlalu tinggi, ini pertanda pembakaran di ruang bakar tidak sempurna (banyak bahan bakar terbuang percuma).

- Saat memperlambat atau menghentikan laju kendaraan, manfaatkanlah pengurangan kecepatan dengan mesin (engine brake). Angkat pedal perlahan, dan putaran mesin pun akan ikut berkurang.

- Usahakan memperkecil setting temperatur AC, jika Anda memang tak begitu membutuhkan AC.

- Pompa ban mobil sesuai ukuran karena ban yang kurang keras, tahanan gelindingnya akan keras.

- Aksesori di bodi mobil mempengaruhi pemborosan BBM seperti penambahan kaca spion, antene, ban lebar, foot step karena makin memperbesar hambatan angin kendaraan.

- Modifikasi untuk meninggikan dan mengangkat kendaraaan juga bisa memperbesar angin kendaraan.

Beberapa trik yang mungkin bisa membantu kita lebih bijak menghemat BBM ditengah krisis energi saat ini. Selamat berkendara! (bsb/rit)

komputer

AMD Dukung DDR3 : Semak2-5-177629-3in Dekat

Advance Micro Devices produsen prosesor tangguh yang terkenal dengan harga prosesor ekonomis kembali akan segera memperkenal prosesor yang mendukung DDR3 lebih awal daripada jadwal.

Setelah beberapa hari yang lalu AMD mengumumkan prosesor jajaran Opteron yang diproduksi dengan menggunakan pabrikan 45 nanometer tersebut dalam beberapa minggu kedepan akan meluncurkan prosesor yang ditargetkan untuk desktop yang termasuk didalamnya memori kontroler DDR3 untuk dapat mendukung DDR3, kata John Taylor, Jubir AMD.

Seperti yang dilaporkan IDGNews, melalui ITWorld, Taylor menolak komentar seputar prosesor yang telah diluncurkan secara spesifik, terlebih dahulu “road map yang telah bocor” menganjurkan peluncuran Phenom II baru dan prosesor triple-core nya.

Prosesor yang mendukung memori DDR3 hadir lebih awal daripada perkiraan. Terakhir kalinya pada tahun lalu, perusahaan mengatakan bertujuan untuk menambah dukungan DDR3 pada prosesor Phenom II di tengah tahun 2009, akan tetapi harus menekan faktor yang tergantung pada harga memori.

Dibandingkan dengan prosesor yang mendukung DDR2, prosesor yang mendukung DDR3 ini  mengijinkan informasi dari memori dapat diakses lebih cepat oleh CPU, yang berarti kinerja PC yang lebih baik. Untuk menjalankan prosesor DDR3 ini AMD akan memperkenalkan juga soket AM3 pada mobo.

“Orang-orang sangat ingin menggunakan memori DDR3 yang paling baru dan paling besar” Kata Taylor.

Menurut Dean McCarron, Presiden Mercury Research, sebuah perusahaan analis pasar mengatakan “Keputusan AMD untuk beralih ke memori DDR3 untuk membuat CPU lebih cepat, dan hal ini secara efektif dapat menyaingi Intel pada pasar PC High-End dan Server”

Bagaimanapun, AMD lebih murah dibandingkan intel telah melekat dan merupakan suatu keuntungan, pembeli yang sangat sensitif dari segi harga pada awalnya menentang modul memori DDR3 yang mahal. Lanjut McCarron.

Seperti yang Anda tahu, diawal Januari harga modul memori DDR3 1GB 1333MHz adalah $35, dibandingkan harga modul memori DDR2 1GB yang mencapai $12 sampai $14 per unitnya.

Beberapa perusahaan pembuat mobo seperti Asus, telah mengumumkan kompatibilitasnya dengan soket AM3. CPU yang baru akan dapat digunakan bersama modul memori DDR2 dan DDR3, dan dapat bekerja pada motherboard yang mendukung modul memori DDR2

AMD tetap pada jalur untuk transisi ke memory DDR3 yang mendukung server dengan platform Maranello di tahun 2010, terang Taylor. Platform Maranello termasuk chip prosesor six-core (wow!) Sao Paulo dan prosesor twelve-core Magny-Cours.

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Pengertian Muatan Lokal

Menurut surat keputusan yang disebutkan di atas yang dimaksud dengan kurikulum muatan lokal ialah program pendidikan yang isi dan media penyam-paiannya dikaitkan dengan lingkungan alam dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah dan wajib dipelajari oleh murid di daerah tersebut.

Ada beberapa faktor lingkungan yang berpengaruh dalam muatan lokal ini yaitu :

  1. Lingkungan alam adalah Lingkungan hidup dan tidak hidup yang mencakup komponen binatang dan tanaman beserta tempat tinggalnya dan hubungan timbal balik antar komponen tersebut.
  2. Lingkungan sosial adalah lingkungan yang mencakup hubungan timbal balik (interaksi) antara manusia satu dengan lainnya sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku di lingkungan tersebut.
  3. Lingkungan budaya adalah lingkungan yang mencakup segenap unsur budaya yang dimiliki masyarakat di suatu daerah tertentu. Termasuk di dalamnya antara lain adalah kepercayaan, adat istiadat, aturan-aturan yang umumnya tidak tertulis, bahasa daerah, dan kesenian daerah.

Keterpaduan antara lingkungan alam, sosial dan budaya pada hakikatnya membentuk suatu kehidupan yang memiliki ciri tertentu yang disebut pola kehidupan. Jadi pola kehidupan masyarakat mencakup interaksi antar anggota masyarakat berkenaan dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Dengan demikian, pengembangan bahan pelajaran bermuatan lokal yang mengacu pada pola kehidupan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung mengembangkan wawasan lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan budaya.

  1. B. Kurikulum Muatan Lokal

Penyusunan kurikulum atas dasar acuan keadaan masyarakat tersebut disebut “Kurikulum Muatan Lokal“.

Kurikulum muatan lokal keberadaan di Indonesia telah dikuatkan dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan nomor 0412/U/1987 tanggal 11 Juli 1987. Sedang pelaksanaannya telah dijabarkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan menengah Nomor 173/-C/Kep/M/87 tertanggal 7 Oktober 1987.

Penyusunan kurikulum muatan lokal juga tercantum dalam beberapa ciri terpenting dari KTSP, salah satu diantaranya adalah ciri yang keempat yaitu KTSP dikembangkan dengan menganut prinsip diversifikasi. Artinya, dalam kurikulum ini standar isi dan standar kompetensi lulusan yang dibuat BSNP itu dijabarkan dengan memasukkan muatan lokal, yakni lokal provinsi, lokal kabupaten/kota, dan lokal sekolah. Penjelasan dari salah satu ciri dari KTSP ini cukup jelas sebagai landasan penyusunan kurikulum muatan lokal (dalam Tafsir Konstruktif atas KTSP).

C. Tujuan Kurikulum Muatan Lokal

Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan muatan lokal tentu saja tidak dapat terlepas dari tujuan umum yang tertera dalam GHBN.

Adapun yang langsung dapat dipaparkan dalam muatan lokal atas dasar tujuan tersebut diantaranya adalah :

  1. Berbudi pekerti luhur, sopan santun daerah dan sopan santun nasional.
  2. Berkepribadian, Punya jati diri dan punya kepribadian daerah disamping kepribadian nasional
  3. Profesional, mengerjakan kerajinan daerah seperti membatik, membuat anyaman, patung dan sebagainya
  4. Cinta lingkungan, dapat menumbuhkan cinta kepada tanah air.
  5. Kesetiakawanan sosial, dalam hal bekerja manusia selalu membutuhkan teman kerja, oleh karenanya akan terjadilah situasi kerja sama dan gotong royong.
  6. Kreatif –inovatif untuk hidup, karena tidak pernah menyia-nyiakan waktu luang, dan yang bersangkutan menjadi orang ulet, tekun, rajin dan sebagainya
  7. Rasa cinta budaya daerah dan budaya nasional.

D. Fungsi Muatan Lokal dalam Kurikulum

Ada beberapa fungsi dari muatan lokal dalam kurikulum, yaitu sebagai berikut :

1)      Fungsi Penyesuaian

Sekolah berada dalam lingkungan masyarakat. Karena itu program-program sekolah harus disesuaikan dengan lingkungan. Demikian pula pribadi-pribadi yang ada dalam sekolah hidup dalam lingkungan, sehingga perlu diupayakan agar pribadi dapat menyesuaikan diri dan akrab dengan lingkungannya.

2)      Fungsi Integrasi

Murid merupakan bagian integral dari masyarakat, karena itu muatan lokal harus merupakan program pendidikan yang berfungsi untuk mendidik pribadi-pribadi yang akan memberikan sumbangan kepada masyarakat atau berfungsi untuk membentukdan mengintegrasikan pribadi kepada masyarakat.

3)      Fungsi Perbedaan

Pengakuan atas perbedaan berarti pula memberi kesempatan bagi pribadi untuk memilih apa yang diinginkannya. Karena itu muatan lokal harus merupakan program pendidikan yang bersifat luwes, yang dapat memberikan pelayanan terhadap perbedaan minat dan kemampuan murid. Ini tidak berarti mendidik pribadi menjadi orang yang individualistik tetapi muatan lokal harus dapat befungsi mendorong pribadi ke arah kemajuan sosialnya dalam masyarakat.

BAB II

PEMBAHASAN

Bahan muatan lokal dapat tercantum pada intrakurikuler, misalnya mata pelajaran kesenian dan ketrampilan, bahasa daerah dan lain sebagainya. Sedang bahan muatan lokal yang dilaksanakan secara ekstra kurikuler bahan dikembangkan dari pola kehidupan dalam lingkungannya. Karena bahan muatan lokal sifatnya mandiri dan tidak terikat oleh pusat, maka peranan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dalam muatan lokal ini sangat menentukan.

Muatan lokal dalam kurikulum dapat merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri atau bahan kajian suatu mata pelajaran yang telah ada. Sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, muatan lokal mempunyai alokasi waktu tersendiri. Tetapi sebagai bahan kajian mata pelajaran, muatan lokal dapat sebagai tambahan secara terpadu dengan bahan kajian lain yang telah ada.

Karena itu, untuk muatan lokal dapat dan tidak dapat diberikan alokasi waktu tersendiri. Muatan lokal sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri tentu dapat diberikan alokasi jam pelajaran. Misalnya, mata pelajaran bahasa daerah, pendidikan kesenian, dan pendidikan keterampilan. Demikian pula, sebagai bahan kajian tambahan dari bahan kajian yang telah ada atau sebagai satu atau lebih pokok bahasan dapat diberikan alokasi waktu.

Tetapi muatan lokal sebagai bahan kajian yang merupakan penjabaran yang lebih mendalam dari pokok bahasan atau sub pokok bahasan yang telah ada sukar untuk diberikan alokasi jam pelajaran. Bahkan muatan lokal berupa disiplin di sekolah, sopan santun berbuat dan berbicara, kebersihan serta keindahan sangat sukar bahkan tidak mungkin diberikan alokasi waktu.

Muatan Lokal Bahasa Daerah

Muatan lokal yang kami analisis berupa bahasa daerah Madura. Di dalamnya (sebagaimana bahasa Indonesia yang mempunyai empat keterampilan) juga memuat empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, membaca, menulis dan berbicara. Di dalamnya juga memuat pelajaran sastra.

Bahasa daerah Madura diterapkan di institusi-institusi pendidikan di daerah-daerah yang secara geografis beretnik Madura dan diterapkan pula di daerah yang mayoritas berbahasa Madura. Bagi kalangan minoritas di sebuah daerah yang beretnik Madura, mereka juga harus ikut ke dalam pelajaran bahasa Madura.

Sebenarnya muatan lokal tidak berbeda jauh dengan pelajaran-pelajaran lain. Di dalam muatan lokal mengandung unsur-unsur kedaerahan dan kesenian. Sama-sama ada standar kompetensi maupun kompertensi dasar dan dapat dikembangkan layaknya pelajaran lainnya. Dan sekolah bebas menentukan muatan lokal yang akan dipelajari oleh siswanya.

Muatan lokal juga dapat diterapkan ke dalam semua mata pelajaran. Misalnya nilai-nilai sosial dan budaya bisa masuk ke dalam pelajaran sosiologi. Begitu juga dengan bahasa daerah. Tapi, bahasa daerah tidak boleh menjadi bahasa yang baku di kelas.

KESIMPULAN

Kurikulum muatan lokal ialah program pendidikan yang isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah dan wajib dipelajari oleh murid didaerah tersebut. Kurikulum muatan lokal diberikan bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum didalam GBHN.

Sumber bahan muatan lokal dapat diperoleh dari banyak sumber antara lain dari nara sumber, pengalaman lingkungan, hasil diskusi dari para ahli yang relevan dan sebagainya. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran selalu menyangkut berbagai unsur atau komponen . Menyusun perencanaan muatan lokal juga akan menyangkut berbagai aspek, antara lain : sumber bahan ajar, pengajar, metode, media, dana dan evaluasi

Sebagai salah satu kurikulum baru dalam dunia pendidikan Muatan lokal dalam pembelajarannya banyak ditemukan kendala dan rintangan yang ditemukan antara lain dari segi : peserta didik, guru, administrasi, sarana dan prasarana, bahkan kurikulumnya sendiri. Tetapi kendala tersebut lambat laun dapat di minimalisir dengan berbagai metode antara lain dengan mengadakan pelatihan bagi para pengajar, lebih memantapkan GBPP, dengan evaluasi yang berkesinambungan dan sebagainya.

Muatan lokal perlu untuk diberikan kepada peserta didik agar peserta didik lebih mengetahui dan mencintai budaya daerahnya sendiri, berbudi pekerti luhur, mandiri, kreatif dan profesional yang pada akhirnya dapat menumbuhkan rasa cinta kepada budaya tanah air.

Kedudukan muatan lokal dalam kurikulum dapat merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri atau bahan kajian suatu mata pelajaran yang telah ada. Selain kedudukan muatan lokal dalam kurikulum, ada juga fungsi muatan lokal dalam kuruikulum yaitu sebagai fungsi penyesuaian, fungsi integrasi, dan fungsi perbedaan.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.